Breathtaking with Gajah Mada (Road to Bromo part 1)

•May 21, 2009 • Leave a Comment
Madakaripura

Dua orang tour guide sedang berdiri di bawah Air Terjun Madakaripura, Pasuruan - Photo by: Afrinaldi Z

Masa cuti telah tiba, saatnya untuk melepas rasa penat akan urusan kantor. Dan, target saya saat ini adalah daerah Pegunungan Tengger. Apa alasannya saya menunjuk tempat ini ? Well, berikut beberapa diantaranya :

1. Bulan Mei-Agustus adalah bulan terbaik, karena di daerah gunung sedang mengalami musim kemarau

2. Pengen menyicipi rawon asli daerah Nguling

3. Sudah 22 tahun lebih hidup di Surabaya, belum pernah sekalipun saya dan keluarga pergi ke Bromo, hmm..apa kata dunia?

Setelah menyiapkan semua “perlengkapan tempur”, kami segera berangkat sekitar jam 8 pagi demi mengejar Rawon Nguling dan juga salah satu tempat eksotis sebelum menuju Bromo, yakni Air Terjun Madakaripura. Air terjun ini termasuk dalam wilayah pemerintahan desa Sapeh, Kecamatan Lumbang, Pasuruan. Waktu terbaik untuk mengunjungi tempat bertapa Mahapatih Gajah Mada adalah pukul 10.00 – 14.00. Diluar itu, hmm bersiaplah menghadapi kabut kelam dari gunung.

Mampir sebentar di Rawon Nguling, kami langsung beranjak ke daerah Sukapura. Hanya berjarak sekitar 7 km dari pertigaan Ngadisari, Sukapura, Tongas, tibalah kami di pintu gerbang. Setelah parkir kendaraan, petualangan berlanjut dengan menyisir bebatuan sungai yang lumayan deras. Sekitar 1 km berjalan, sampailah di air terjun Madakaripura. Oia, jangan lupa sewa tour guide, karena medannya berat. tarif seikhlasnya kok =). Terletak diatas ketinggian 620-m dengan ketinggian hingga 200-m, terlihat air terjun ini seperti air terjun yang berada di tempat lain. Tapi kalau kita sedikit berkorban dengan berbasah-basah ria menembus tetesan air yang jatuh, tibalah kita di suatu spot yang sangat mempesona (seperti foto diatas). Air terjun ini konon juga memiliki goa tempat bertapa Sang Mahapatih. Ada juga sumber mata air yang keluar langsung dari tebing dan dipercaya sebagai air minum dan mandi Gajah Mada. Konon bisa buat awet muda dan menyehatkan. Believe it or not lah. Setelah puas dengan air terjun ini, perjalanan berlanjut ke Bromo..Bromo here we come…

:: Malaka In Love ::

•November 26, 2008 • 7 Comments
St. Paul Church Malacca

St. Paul Church Malacca

 

Entah kenapa, kota yang satu ini membuat diri saya selalu penasaran. Tak puas rasanya berjalan ke Malaysia tanpa berkunjung ke Malaka. Bahkan, andaikan sekali lagi diijinkan berkunjung ke negeri jiran ini, Malaka adalah kota pertama yang ada di otak saya untuk dikunjungi. Kota ini benar-benar istimewa, perpaduan kota kuno dan modern yang sangat harmonis mewarnai di pusat dan sudut kota. Sangat terlihat jelas dimana kawasan yang harus dilindungi, dan dimana kawasan yang dijadikan tempat modern, sehingga tidak campur aduk layaknya Jakarta yang kita cintai ini. Keramahan masyarkatnya yang multietnis pun memberikan suasana yang nyaman bagi kota ini. Apalagi setiap sudut kota bisa kita jelajahi walaupun dengan jalan kaki. Dan puncaknya pada pertengahan 2008 kemarin, UNESCO secara resmi menganugerahkan Malaka yang disebut pula “The Golden Chersonese” sebagai salah satu cagar budaya dunia di tepian Selat Malaka. Padahal, secara umur, masih ada kota Palembang atau Jambi, yang memiliki umur lebih tua (Malaka berusia 600-tahun an) dan layak dijadikan cagar budaya dunia. Namun promosi dan dukungan dari pemerintah serta rakyat Malaka ditambah fakta sejarah masa lalu sepertinya menjadi sebuah kekuatan yang membuat UNESCO menganugerahkan kota yang pernah menjadi pelabuhan terkaya di dunia ini sebagai salah satu aset sejarah dunia.

 

Saat saya berkunjung ke sana, saya benar-benar menyadari bahwa keseriusan pemerintah Malaysia terhadap pelestarian sejarah kota Malaka benar-benar luar biasa. Untuk menyokong Visit Malaysia 2007, sebuah terminal bus akses internasional Sentral Malaka dibangun sebagai pelengkap keberadaan pelabuhan lautnya dan bandara Batu Berendam. Minimalis, namun sangat elegan dan siap menyambut seluruh wisatawan yang berkunjung ke Malaka. Bila bingung untuk ke tengah kota, tenang saja, karena setiap 15-30 menit ada bus khusus (berwarna merah) yang menuju ke pusat kota Malaka. Selain itu, papan penunjuk arah pun juga sangat banyak. Aktivitas arkeologi di kota ini pun juga tertata dengan rapi dan mendapat antusias yang tinggi dari masyarakatnya

 

Sepanjang perjalanan ke pusat kota (Town Square), saya disuguhi kesan antik namun terawat dari Malaka. Jalan kecil untuk 2 mobil satu arah meliuk-liuk di tengah antiknya perpaduan arsitektur Melayu, India, Cina, dan Eropa. Komposisi bangunan Eropa disini mengingatkan saya akan keberadaan Jalan Braga saat pertama kali ke Bandung dahulu. Namun kesan antik Braga sudah sangat jauh berkurang, karena dipenuhi dengan mall dan kafe-kafe yang justru mengotori keantikan Braga itu sendiri.

 

Saat tiba di Town Square atau Red Square, kesan antik dengan nuansa merah bata tertuang saat melihat bangunan-bangunan peninggalan Portugis dan Belanda dahulu. Pertama-tama, saya menyerbu Stadhuys Malacca, bangunan berwarna merah ini lebih kecil dari pada Stadhuys Batavia, namun jauh lebih terawat. Terletak diatas bekas benteng Portugis dan dibangun oleh VOC pada 1650 sebagai tempat tinggal Gubernur VOC Malaka  dan kini diubah menjadi museum. Dahulu, bangunan ini tidak seluruhnya berwarna merah, namun untuk menyesuaikan dengan warna Christ Church, yang terletak di sebelahnya, seluruh bangunan dicat merah oleh Belanda. Lanjut ke Christ Church, bangunan ini dibangun pada 1753 dengan menggunakan bata impor dari Belanda (kenapa gak impor dari Indonesia aja yak?). 17 tiang kayu tanpa sambungan, brass bible, dan beberapa makam menghiasi bangunan ini. Di sebelah kiri gereja terdapat bekas kantor pos (dibangun 1931) dan memiliki beranda yang menghadap ke town square. Kini bangunan ini diubah menjadi Youth Museum. Berjalan mengikuti Jl. Kota, dapat ditemui beberapa bangunan bergaya Belanda kuno (tetap dengan warna merah bata), hingga saya berhenti di salah satu landmark terkenal Malaka, Porta de Santiago a.k.a. Gapura Santiago. Gapura ini merupakan satu-satunya bekas bangunan tersisa dari benteng raksasa Portugis, A Famosa, yang dibangun oleh Alfonso d’ Albuquerque pada tahun 1511 setelah menaklukan Kerajaan Malaka melalui ekspedisi yang cukup berat. Setelah menghancurkan Istana Malaka, dengan menggunakan sisa-sisa batu dari Istana Malaka tersebut, ia membangun benteng ini dan melengkapinya dengan sebuah kastil, 2 buah istana, 5 gereja, dan 2 rumah sakit sehingga membuat benteng ini menjadi salah satu benteng Portugis termegah di Timur Jauh. VOC kemudian mempertebal benteng ini dan menambah beberapa meriam setelah mereka mengambil alih Malaka dari tangan Portugis di tahun 1670. Pada tahun 1807, armada Inggris menyerbu Malaka dan meluluh-lantakan batu-batu benteng ini (konon ada yang sebesar gajah dan rumah..?!) hingga berkeping-keping. Sir Stamford Raffles, yang saat itu menjabat sebagai pimpinan Inggris dan peduli dengan peninggalan sejarah, panik dan segera menyelamatkan Porta de Santiago sebagai satu-satunya peninggalan Portugis yang tersisa. Dari Porta de Santiago, naik ke atas bukit Sao Paulo Hill, terdapat reruntuhan gereja yang dibangun Portugis pada tahun 1521. Namun, kaum Protestan Belanda menghancurkan atap dan mengubahnya menjadi benteng. Konon, St. Francis Xavier pernah dimakamkan di gereja ini sebelum dipindahkan ke Goa, India. Dari atas bukit ini kita bisa melihat hamparan laut Selat Malaka lengkap dengan Pulau Malaka nya. Luar biasa cantik.

Red Paving Road of Malacca

Paved Road in Malacca

 

Turun dari bukit, saya segera melarikan diri ke Malacca Sultanate Palace, yang merupakan rekonstruksi dari Istana Kerajaan Malaka pada abad ke-15 dan terbuat dari bahan kayu. Setelah puas dengan bangunan istana, saya segera meluncur ke jalan terkenal di Malaka, yakni Jonker Street atau Hang Jebat Street. Disini, banyak dijual barang-barang antik dan juga souvenir khusus dari Malaka. Namun saya memilih untuk mengitari Jalan Tun Tan Cheng Lock. Di kanan kiri jalan banyak sekali bangunan-bangunan khas Cina (mirip seperti di film-film kungfu) dengan kondisi masih seperti aslinya. Akhirnya saya berhenti di kediaman William Chan yang bernomor 50. Beliau merupakan salah seorang dari keturunan Baba dan Nyonya (keturunan dari 500 pendatang Cina yang datang ke Malaka bersama Putri Hang Li Po dan Laksamana Cheng Ho) yang bersedia rumahnya di sulap menjadi Baba and Nyonya Heritage Museum. Keadaannya masih sama persis dengan bentuk aslinya dan beberapa perabotan juga merupakan warisan leluhur beliau. Selanjutnya saya menuju ke Kampung Keling Mosque, yang merupakan masjid peninggalan Muslim India (Coromandel) dan dibangun pada 1748. Tempat wudlunya pun unik, karena tidak ada kran layaknya masjid secara umum dan kita harus jongkok untuk mengambil air wudlu dari kolamnya. Yang membuat unik lagi, di sebelah kiri masjid ini terdapat Klenteng Cheng Hoon Teng, yang dibangun pada tahun 1646 oleh pelarian dari Dinasti Manchu dan diperuntukkan kepada Dewi Kwan Yin, sementara di sebelah kanannya terdapat Sri Poyyatha Vinayagar Moorthi Temple, yang merupakan salah satu kuil tertua di Malaysia dan dibangun pada tahun 1781. Namun kehidupan beragama disini cukup harmonis, dimana toleransi antar umat beragama cukup tinggi. Hal inilah yang membuat Malaka menjadi kota multietnis semenjak abad ke-15. Tidak jauh dari masjid ini, terdapat Makam Hang Jebat, sahabat Hang Tuah dan juga merupakan salah seorang pahlawan Kerajaan Malaka. Beliau terkenal dengan perkataan “..Raja adil raja disembah, raja zalim raja disanggah..“. Dirinya terbunuh oleh Keris Tamiang Sari milik Hang Tuah setelah membuat keonaran di Malaka, karena membela Hang Tuah yang difitnah oleh salah seorang bangsawan Malaka. Beliau menuntut balas atas fitnah sahabatnya, namun sungguh ironis, ia terbunuh oleh sahabatnya sendiri karena tidak bisa mengontrol emosinya. Hingga akhirnya, beliau wafat diatas pangkuan Hang Tuah.

  

Sunset at Malacca RIver
Malacca River

Setelah lelah berkeliling, saatnya mengisi perut yang sudah kosong. Hanya berjalan kaki beberapa menit ke arah Jl. Temenggong, terdapat salah satu kedai yang menjual Martabak Keling dan dijamin halal. Kedai ini cukup ramai dan rupanya terkenal juga di Malaka. Harganya pun sangat murah. Setelah kenyang dari ufuk barat, senja telah menapak, saatnya untuk pulang. Saya pun segera melangkahkan kaki ke Town Square untuk menunggu bus menuju ke terminal. Sambil menunggu bus, saya mencoba berjalan melintasi jembatan yang melintasi Sungai Malaka dan dibangun ulang pada abad ke-19. Konon jembatan aslinya terbuat dari batu yang menghubungkan antara istana dengan pasar dan mampu dilewati oleh gajah sultan. Portugis menyerbu ke Malaka pun juga melewati jembatan ini setelah berhasil menyusuri aliran sungai. Saat menikmati sunset dan membayangkan sejarah masa lampau, angkutan saya pun akhirnya tiba. Dengan berat hati, saya melangkahkan kaki ke bus dan berharap, Allah memberikan saya kesempatan untuk mengunjungi kota indah ini kesekian kalinya. Dalam hati saya bergumam, kenapa Indonesia tidak mampu membuat konservasi sejarah seperti Malaka ini? Kota Tua Jakarta pun juga sudah mulai digerogoti dengan pembangunan di sana sini serta dipenuhi kerusakan di beberapa area pentingnya. Hmmm…nampaknya sekali lagi, kita harus belajar banyak kepada Malaka, bagaimana mereka menghargai dan mempertahankan kebesaran kota mereka. Selamat tinggl The Golden Chersonese, sampai jumpa Malaka.

:: Perang Kamang 1908 ::

•August 15, 2008 • 2 Comments

Perang Kamang 1908 adalah perang terbuka yang meledak 15 Juni 1908 dan merupakan salah satu puncak dari kemelut suasana anti penjajahan rakyat Sumatera Barat menentang penjajahan Belanda. Di sini akan terlihat gambar nyata dari bentuk semangat dan pengorbanan rakyat Kamang, baik kalangan adat, agama, cerdik pandai, pemuda dan kaum ibu dalam menulang punggungi perlawanan mengusir Belanda, yang dari segi politis dapat dikatakan sebagai bukti sumbangan yang pernah ditujukan bangsa Indonesia.

Hal ini tercermin dari kunjungan Menko Keamanan dan Pertahanan Jendral A.H.Nasution tanggal 15 Juni 1963, yang sekaligus meresmikan Makan ahlawan Perang Kamang. Juga dari sambutan Wakil Perdana Menteri Pertama/Ketua MPRS Chairul Saleh tanggal 15 Juni 1962 dan Menteri Penerangan DR.H.Abdul Gani tanggal 15 Juni 1964.

Namun sebelum masuk pada uraian detik-detik jalannya Perang Kamang 15 Juni 1908 dalam bentuk penyerbuan besar-besaran pasukan rakyat terhadap Belanda, terlebih dahulu ada hal yang sangat penting digarisbawahi:

- Bahwa apa yang akan dikemukakan di sini, adalah semata-mata berdasarkan data dan fakta yang terkumpul, khusus yang berkaitan dengan perlawanan rakyat Kamang (Kamang Hilir sekarang)

- Bahwa dengan tujuan sengaja tidak ingin keluar dari pokok tulisan semula yaitu memproyeksikan setiap rangkaian peristiwa pada Kamang sebagai subyek sejarah, maka sasaran intinya lebih dititikberatkan, ke arah bentuk eksistensi seluruh rakyat Kamang dan pimpinanya menghadapi penjajahan. Jadi bukan Kamang sebagai lokasi/orang dari mana saja yang mungkin ikut langsung sebagai pendukung peristiwa.

Masalah ini perlu ditekankan, mengingat kelarsan Kamang mempunyai kawasan meliputi Kanagarian Kamang (sekarang Kamang Hilir), Kanagarian Surau Koto Samiak (sekarang Kamang Mudiak), Suayan dan Sungai Balantiak, dengan pusat pemerintahan kelarasan dimana seluruh aktivitas kepemimpinan lembaga adat, keagamaan dan lain-lain diatur, terletak di Tangah Kanagarian Kamang Hilir. Dengan demikian, semoga tidak akan timbul salah pengertian apalagi versi mengenai gambaran yang ingin diuraikan berikut ini:

J. Westernnenk secara berturut-turut masih berusaha mendatangi rakyat Kamang, bahkan tak terhitung lagi. Tetapi perundingan-perundingan atau lebih tepat disebut perdebatan mengenai persoalan itu ke itu juga, malah lebih menambah kebencian dan memperkukuh semangat aksi rakyat terhadap Belanda, yang pada masa itu sebenarnya sedang mengalami goncangan politik, yang rata-rata melanda negara-negara Eropah Barat.

Di samping kropos dalam tubuh sendiri, kritik sebagian kaum militan dan rakyat progresif Belanda terhadap pelaksanaan peraturan blasting di Indonesia, berangsur menjurus ke arah kampanye-kampanye kemanusiaan yang dimotori golongan liberal. Dari berbagai tuntutan yang muncul kemudian tergambar, sebagian dari masyarakat Belanda cenderung kurang setuju atas sikap pemerintah dalam menangani masalah-masalah tanah jajahan sebarang lautan, termasuk Indonesia. Semua ini sering menjadi bahan pertengkaran sengit di Parlemen Belanda dan sangat membuat pusing pemerintah. Kemudian ditambah lagi oleh pengaruh politik militerasme Jerman, yang seakan membuat seluruh Eropah Barat terpanggang dalam tungku pemanas, gelisah dan senantiasa diliputi pikiran curiga satu sama lain.

Tetapi bagi Belanda tidak mungkin lagi menarik garis politik lain di tengah suasana demikian, lebih lagi disebabkan oleh kian tajamnya gerakan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri. Di sinilah dalam keadana yang selama ini telah menukar manusia jadi hewan, dihargai sikap rakyat yang mulai menyadari kemampuan mereka yang tersembunyi untuk menghadapi segala rintangan, sehingg dengan sendirinya mulai menghargai kehormatan diri dan bangsa. Sedikit demi sedikit malah kini siap berbalik untuk menginjak-nginjak lawan.

Di Kamang, kesibukan terlihat dimana-mana. Siang dan malam merek terus memasang telinga atas setiap perkembangan yang terjadi, kemudian membicarakannya pada setiap kesempatan yang ada sebelum tiba pada kesimpulan akhir. Seluruh dusun seakan dipenuhi musik dencingan golok yang sedang diasah. Dari yang kecil sampai yang tua, laki-laki dan perempuan semuanya bermandi peluh karena mesti menggunakan seluruh tenaga untuk dapat menyelesaikan pekerjaan membuat senjata tradisional, sementara kaum ibu saling berbisik memandang bangga ke arah suami atau anak-anak mereka. Dan para pemuda pilihan terus melatih diri dengan giat, tanpa kenal lelah. Pada pokoknya masa itu suasana Kamang benar-benar dipenuhi warna perang yang kalau dituliskan satu persatu niscaya tidak akan habis-habisnya.

Namun, ada sebuah adegan yang sangat mengesankan ketika seorang anak berumur 6 tahun bertanya kepada ibunya yang saat itu sedang istirahat setelah berlatih silat di halaman masjid Taluak: “Kalau ibu dan ayah pergi berperang mati, dengan siapakah saya tinggal lagi? Sang ibu yang bernama Siti Anisah, termenung sejurus, memandang pada tubuhnya yang bermandikan keringat, kemudian pada suaminya Nan Basikek yang masih berlatih di tengah gelangang dan mengelus kepala si Anak dengan kasih sayang, seolah terbayang akan hari depan yang gelap, lalu menjawab: “Semua orang akan menjadi ayah ibumu, selagi dia membenci penjajahan.” Si anak bingung, tapi siti Anisah cepat-cepat mendekapnya, takut timbul pertentangan di dalam bathinnya. Sebutir air mata jatuh tanpa disadarinya di atas kepala si anak. Dan kemudian benar begitulah kenyataanya, dalam pertempuran 15 Juni 1908, Siti Anisah tersebut gugur sebagai Kesuma Bangsa.

Si anak yang bernama Ramaya inilah nantinya yang pada tahun 1926 tampil sebagai pemimpin pemberontakan bersejarah yang terkenal dengan “Pemberontakan Kamang 1926”. Semetnara itu Kari Mudo sebagai pelopor generasi muda, juga tidak tinggal diam. Secara berturut-turut dalam waktu berjarak lama, dia mengadakan pertemuan-pertemuan dengan pemuka masyarakat Kamang, termasuk Laras Garang Dt. Palindih, Penghulu Kepala Dt. Siri Marajo, pemimpin perlawanan Dt.Rajo Penghulu, Dt.Mangkudun, St.Pamernan dan banyak lagi yang lain-lain, bahkan pernah dihadiri oleh J.Wstennenk sendiri. Dan pada kesempatan lain dia juga berusaha memenuhi Dt. Mudo di Payakumbuh, Syekh Koto Baru, Pado Kayo di Suayan untuk meminta petuah sekaligus penangkal untuk persiapan menghadapi perperangan yang diperkirakan tidak lama lagi. Akhirnya saat ituun tiba. Tetapi apa yang menajdi penyulut perang ini, terdapat berbagai versi yang agak berbeda. Oleh karena itu kita cenderung berpegang pada Buku Pemberontakan Pajak 1908 karangan Rusli Amran.

Hari Senin pagi tanggal 15 Juni 1908, sebagai hari perlawanan paling hebat di Sumatera Barat dalam menentang sistem blasting telah diawali ketika seorang warga masyarakat Magek datang ke kantor Laras Warido dengan maksud untuk membayar blasting.

Dia langsung dihadang serombongan warga setemapt dan diancam akan dibunuh kalau rencana itu diteruskan juga, karena perbuatan ini terang-terangan melanggar tekad bersama untuk menentang Belanda. Mengetahui duduk masalahnya, Laras Kenagarian Magek Warido sangat marah, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia langsung berangkat ke Bukittinggi untuk melaporkan peristwia itu kepada J.Westennenk dn meminta supaya para pembangkang segera ditangkap. Hari itu juga melalui telepon, J.Westennenk menghubungi Gubernur Sumatera Barat Hecler untk mohon petunjuk mengenai tindakan yang harus diambil. Hanya sepatah kata yang dicetuskan Hecler sesuai dengan penggarisan Gubernur General Van Heutez yaitu, serbu!

J.Westennenk lantas mengumpulkan 160 orang pasukan pilihan yang kemudian dibagi menjadi 3 kelompok. Menjelang sore mereka segera bergerak dari Bukittinggi menuju Kamang dari tiga jurusan:

 1. Pasukan pertama yang terdiri dari 30 orang, masuk dari Gadut terus menuju Pauh, dipimpin dua orang letnan yaitu Heine dan Cheriek.

2. Pasukan kedua, yang terdiri dari 80 orang serdadu dipimpin J.Westennenk bersama Kapten Lutsz, Letnan Leroux, Letnan Van Keulen, Dahler dan Aspiran Kontrolir Beeuwkes, masuk dari Tanjung Alam terus ke Tilatang.

3. Sedangkan pasukan ketiga yang berkekuatan 50 orang serdadu di bawah pimpinan Letnan Boldingh dan Letnan Schaap, masuk lewat Biaro dan terus menuju Salo.

Di sepanjang jalan terjadilah perlawanan rakyat di antaranya yang cukup hebat dalah yang dilakukan Dt.Parpatiah di Magek, dimana dalam pertempuran itu Dt. Parpatiah sendiri tewas ditembus senjata lawan. Pasukan yang masuk dari Tanjung Alam dan Gadut bertemu di Kamang Mudiak Sekarang, sedangkan yang datang dari Biaro, sesampai di Kubualah membelok ke Magek, dimana ikut pula Warido, Kepala Penghulu Tigo Lurah, Laras Banuhampu, Menteri Klas I dan seorang polisi, untuk memudian bergabung ke Kamang Mudik. Pasukan inilah yang terlihat pertempuran dengan pasukan rakyat di bawah pimpinan Dt. Parpatiah. Dalam pertempuran D. Parpatiah berhasil membunuh Laras Warido sebelum dia sendiri tewas sebagaimana di sebutkan di atas.

Pada senja hari, Belanda mulai bergerak mengepung rumah H. Abdul Manan untuk menangkapnya, karena pada masa itu mereka beranggapan, yang menjadi dalang pergolakan adalah kaum agama. Tetapi H. Abdul Manan berhasil meloloskan diri dan segera menemui Dt. Rajo Penghulu di Kamang (sekarang Kamang Hilir) untuk berkonsultasi. Akhirnya bertiga dengan Kari Mudo dan beberapa orang pemuka lainya, mereka langsung mengadakan rapat kilat untuk membahas perkembangan yang sangat kritis dan menyusun kesiagaan seluruh rakyat guna mengobarkan perang sabil.

Pukul 12.00 diterima informasi, pasukan Belanda berkumpul di suatu tempat perbatasan Kamang dan Kamang Mudik sekarang, yang bernama Kampuang Tangah, menunggu hari siang, selain dikelilinggi pesawahan yang membuat pandangan bebas ke arah jalan raya satu-satunya, juga penduduknya tidak seberapa. Ini disadari benar oleh Dt. Rajo Penghulu. Setelah ditinggal pergi H. Abdul Manan yang kembali ketempat semula, dia mulai menyiapkan pasukan tempur, Beduk, tong-tong dan puput tanduk berkumandangan di tengah malam sunyi pertanda perang bakal dimulai.

Pasukan rakyat langsung dipimpin Dt. Rajo Penghulu, terlebih dahulu berkumpul di Masjid Taluak untuk menerima penjelasan dan beberapa instruksi penting, sebelum membaginya dalam beberapa kelompok. Kelompok yang paling besar adalah yang dipimpin Khadi Abdul Gani. Setelah selesai sembahyang berjamaah, lalu ditutup dengan pekik Allahu Akbar dan Laailahillah, mereka pun berangkatlah menuju Kampung Tangah.

Jadi di sini jelaslah apa yang disebut dengan Perang Kamang itu ialah suatu pertempuran rakyat yang datang menyerbu. Realitasnya memang begitu dan tidak mungkin diubah-ubah lagi.

Kembali kepada pasukan rakyat yang meninggalkan Masjid Taluak menurut catatan yang diperoleh dari berabagai sumber yang dapat dipercaya dan sampai tulisan ini disusun masih hidup, bahkan ikut dalam pertempuran itu, menyebutkan sesampai mereka di Kampuang Tangah, mereka segera bersembunyi di rumpun padi yang sedang menguning sambil merayap mendekati pasukan Belanda.

J.Westennenk dari tempatnya berdiri dengan pasukannya, di antara remang-remang malam telah melihat semua ini, bahkan juga sudah mengenal bayangan Dt. Rajo Penghulu bersama dengan pemimpin lainya. Tetapi dia masih belum mau bertindak karena dia masih punya harapan untuk membujuk rakyat. Lantas dia berteriak menyuruh supaya pasukan rakyat pulang kembali mengingat kekuatan kompeni cukup banyak dengan personil dan senjatanya. Dia juga mengingatkan segala kemungkinan yang bisa terjadi, sekiranya pasukan rakyat masih bermakud terus maju. Tetapi seruan itu segera pula dijawab Dt.Rajo Penghulu, pasukan rakyat tidak akan mundur setapakpun dan bersedia mati syahid.

Dalam kesimpulan salah satu laporan resmi J.Westennenk kepada Gubernur Jendral Ven Heutsz di Batavia melalui surat kawat tanggal 17 Juni 1908, disusul laporan pada Gubernur Sumatera Barat Heckler No.1012 tanggal 25 Juni 1908, dia melukiskan suasana malam itu, seumpama satu malam dimana jurang antara ras manusia dengan segala kekuasaanya, sudah tidak ada lagi. Yang ada, cuma kelompok kemarahan yang saling bertentangan di dalam diri manusia-manusia yang bertatap dengan buas melalui kerlipan bintang-bintang di langit, siap untuk saling bunuh. Dari arah segerombolan orang-orang yang berdiri di pinggir jalan raya, sekali-sekali terdenar gemuruh suara Ratib dan Allahu Akbar, yang semuanya berjumlah tidak kurang dari lima ratus orang. Sedangkan beberapa orang lagi yang sedang merayap dalam padi, tidak dapat dihitung. Tapi pasti meliputi ratuan orang pula.

J.Westennenk datang mendekati Sersan Booman yang sedang mengawasi kegelapan. Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Sersan Boorman yang bertugas mengawasi wilayah timur, hampir bersamaan dengan J.Westennenk mencabut pistol, ketika gelombang serbuan pertama begitu saja sudah muncul di depanya. Orang-orang itu bagai datang dari balik kegelapan disertai pekik kalimat-kalimat Tuhan yang mendirikan bulu roma. Di tangan mereka berkilauan berbagai macam senjata, mulai dari pisau, parang, lembing dan beberapa jenis senjata lainya. Dalam beberapa jam saja, terjadilah perang basosoh yang dahsyat, karena serdadu Belanda banyak yang tidak sempat menembakkan senjatanya.

Gemercing senjata, letusan senapan, jerit kesakitan dan rintih kematian memenuhi udara malam maka dalam sekejap Kampuang Tangah yang tenang itu berubah menjadi medan bangkai dan telaga darah.

Dalam laporan resmi J. Westennenk tersebut, juga dijelaskan, telah terjadi lebih dari delapan kali serangan serupa dalam waktu hampir berturut-turut dan semakin mengerikan. Ratusan orang penyerbu terus saja maju sekalipun dihujani tembakan. Kegelapan malam menyebabkan sulit bagi serdadu Belanda membidik sasaran secara tepat, sehingga sebahagian besar dari mereka yang berhasil tiba di tempat para serdadu bertahan, langsung membabat lawan bagai kesetanan. Satu demi satu prajurit Belanda tewas dengan tubuh penuh luka-luka mengerikan. Sersan Boorman tak henti-hentinya berteriak membangkitkan semangat anak buahnya yang semakin kendor. Di antara kepulan asap mesiu, Dr.Justesen kelihatan merunduk-runduk ke arah beberapa orang serdadu yang merintih akibat luka-luka yang di deritanya. Tetapi dari arah tidak kurang dari 50 meter, lagi-lagi puluhan penyerbu sudah datang pula. Kelihatan dua orang serdadu mengacungkan senjata dalam jarak beberapa langkah menyongsong mereka, namun sebelum sempat melepaskan tembakan kedua serdadu itu terjungkal di tengah kilauan senjata tajam. Perwira kesehatan Dr.Justesen dan sersan Boorman secara bersama-sama berusaha keras mencegah serdadu yang sudah mulai mundur, ketika menyaksikan seseorang penyerang membelah kepala seorang sersan. Sementara itu dari arah lain, beberapa orang penyerbu berhasil memasuki sekelompok tentara. Terdengar beberapa kali tembakan disusul jatuhnya empat orang di antara mereka. Tetapi belasan orang yang luput, langsung menghabiskan para serdadu Belanda tanpa ampun.

Demikian pada pertempuran yang berlangsung sampai pukul 2.00 dini hari itu, bintang J Westennenk sebgai pelaksana kolonial terlindung oleh bintang M. Saleh Dt. Rajo Penghulu sebagai pemuka perang. Pasukan rakyat memperoleh kemenangan gemilang lantaran semangat dan koordinasi yang tinggi. Tentara Belanda berhaisl dibuat kucar kacir. Tetapi J.Westennek sempat meloloskan diri dan minta bantuan ke Bukittinggi.

Pasukan inilah nantinya yang telah menimbulkan malapetaka terhadap pasukan rakyat, karena bertepatan fajar menyingsing merek datang dalam jumlah yang sangat besar, sehingga babak kedua perang basosoh, segera meledak kembali. Akan tetapi lantaran pasukan itu terlalu banyak dan segar-segar, dilengkapi pula dengn senjata modern, akhirnya pasukan rakyat terpaksa mengundurkan diri. Dan bersamaan itu, berhentilah kegaduhan suasana perang bagai disapu dari bumi Kampung Tangah. Yang tinggal hanyalah keheningan yang ditingkah erangan suara manusia yang luka-luka di tengah desau angin dedaunan. Nun di ufuk timur, warna keemasan kelihatan menebari permukaan langit dan burung-burungpun mulai berkicau seperti hari-hari sebelumnya. Maka tercatatlah pagi itu sebagi sejarah berkabut di hati setiap bangsa Indonesia di dalam menentang kolonis Belanda.

M.Saleh Dt. Rajo Penghulu bersama lebih 70 angot pasukan rakyat, syahid sebagai pahlawan bangsa, di antaranya terdapat dua orang srikandi yaitu Siti Anisah dan siti Asiah. Selain itu yang mengalami cacat, tercatat 20 orang.

Siti Asiah

Mengenai tragedi gugurnya Siti Asiah, salah seorang penyerbu yang luput dari maut, bernama Makih Mangiang Suku Guci berasal dari dusun Solok Kamang, menceritakan kepada salah seorang anaknya yang hingga saat ini masih hidup, bahwa: Dia melihat Siti Asiah yang berada tidak jauh dari tempatnya berada, sedang istirahat setelah beberapa kali bertempur, tiba-tiba melompat bangunan, berlari dengan rambut tergerai menyerbu ke arah tiga orang serdadu Belanda yang berdiri di kegelapan. Dt. Rajo Penghulu berteriak memperingatkan, tapi wanita itu tidak peduli terantuk pada sebuah benggolan tanah pematang dan terjatuh masuk selokan. Dia berusaha bangun secepatnya tapi tahu-tahu dua orang serdadu Belanda sudah berdiri mengacungkan laras senjata ke arahnya. Dalam keadaan terlentang tak berdaya, Siti Asiah hanya mengelijang sebentar ketika salah seorang dari kedua serdadu itu memasukkan moncong senapan kemulutnya dan menarik pelatuknya. Terdengar sebuah ledakan dan terkaparlah srikandi perkasa Siti Asiah dalam sebuah wajah yang penuh keringat, namun diliputi ketenangan.

Dt.Rajo Penghulu yang sedang bertempur menghadapi dua orang Belanda, lantas berpaling dan berbalik kearah istrinya. Namun sebelum berhasil ia mencapai tubuh istrinya itu, kembali terdengar sebuah letusan senjata api. Dt. Rajo Penghulu terhuyyung-huyung beberapa langkah kemudian jatuh tepat disamping tubuh Siti Asiah dan gugur sebagai pahlawan bangsa.

Akan halanya Haji Abdul Manan, menurut buku Pemberontakan Pajak karangan Rusli Amran, beliau ditangkap Belanda keesokan harinya (16 Juni 1908) dan langsung ditembak mati dikampugn kelahiran beliau, Bansa. Jadi ibandingkan dengan 425 orang tentara Belanda yang mati maka kekalahan tragis dalam memperjuangkan hak dari kekuasaan penjajah ini dapat dianggap sebagai bukti bahwa dinamika revolusi telah menumbuh suburkan kodrat yang pantas dinilai ole sejarah dunia. Dipandang secara lahir, meandang dalam satu pertempuran tidak ada batas bunuh membunuh, tapi apa yang telah ditunjukkan rakyat Kamang yang rela memilih mati daripada dijajah, jelas ikut sebagai pendorong dlaam meneruskan cita-cita perjuangan yang belum selesai. Namun dipandang dari sudut batin, kehilangan pemimpin-pemimpin yang punya semangat revolusi seperti Dt.Rajo Penghulu itu adalah pukulan yang sedikit banyaknya mempengaruhi warna perjuangan dimasa yang akan datang, karena kemauan yang mempunyai dasar yang kokoh, tidak akan pernah berhenti sebelum seluruhnya berhasl dicapai. Hal yang terakhir akan terlihat nyata dalam jalannya perjuangan rakyat Kamang dibelakang peristwia bersejarah ini.

Akhirnya semua jenazah pahlawan perang Kamang, kembali dibawah ke Kamang (Kamang Hilir sekarang) dan di makamkan di komplek Masjid Taluak, sementra beberapa orang pejuang lianya Kari Mudo, Garang Dt. Palidih, Dt. Siri Marajo, Pedeka Sumin, Dt. Manguhudun, Haji M. Amin dan lain-lain, ditangkap Belanda pada keesokan harinya. Bagi mereka yang tidak mau mengakui atau bersumpah stia kepada bendera Belanda seger dikirim ke berabgai penjara seperti penjara Padang Batavia, Magelang, Makasar, dan sebagainya. Sebagaimana diketahui, Dt.Siri Marajo akhirnya meninggal dunia di penjara glodok Batavia, sedangkan Pendeka Sumin dibuang ke Makasar dan meninggal disana. Begitu pula A. Walid Kari Mudo, setelah menjalani masa pembangunan selama 27 tahun di Makasar, dipindahkan ke Jakarta sampai beliau meninggal dunia disana pada tahun 1052.

Mengenai jumlah korban Perang Kamang yang meninggal di kedua belah pihak, ternyata kemudian banyak terdapat spekulasi angka, baik yang bersal dari statement Balanda sendiri, atau yang di muat berbagai koran setempat waktu itu seperti de Padanger, maupun berdasarkan taksiran-taksiran tidak resmi. Tetapi satu hal yang perlu dikethaui adalah bahwa Belanda dalam mengumumkan angka-angka itu sengja mengeilkan dengan alasan politik. Sedangkan jumlah yang gugur dipihak pasukan rakyat semua tercatat tujuh puluh orang (70 orang) lebih, dapat sma-sama dibuktikan di Makam Perang Kamang 1908 Taluak, yang sampai sekarang masih dirawat baik. Begitu juga mengenai 425 orng tentara Belanda yang mati, tercatat berdasarkan keterangan beberapa orang saksi mata yang ikut terjun dalam pertempuran itu (yang pada waktu penyusunan buku ini masih hidup) sesuai jumlah pedati dan ukuran tubuh manusia yang dapat dimuat didalamnya. Waktu itu pihak Belanda membawa mayat-mayat pasukanya keesokan hari dengan semacam pedati, gerobak sapi yang biasa digunakan para petani untuk membawa hasil panen.

Dalam satu revolusi memang ada yang perlu diumumkan, adapula yang hanya dibisikkan antara awak sama awak saja dan adapula yang hanya perlu disimpan sebagai rahasia. Namun dari kesimpulan uraian di atas, dapat dikatkan bahwa apa yang terjadi pada malam 15 Juni 1908 itu, adalah merupakan mata rantai usaha bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan yang perlu diumumkan. Dari sikap rakyatnya memadu alam yang kontradiktif dan sebagai dreamers akan adanya yang bebas, merdeka, secara berani yang nyaris tanpa perhitungan menentang kekuatan negara maju, dapatlah di yakini bahwa rakyat Kamang punya semangat revolusioner dan selalu siap menghadapi sebarang halangan.

Sumber:
Kamang Dalam Pertumbuhan dan
Perjuangan Menentang Kolonialis
Karangan: A.utan M. Indo

:: A Pen Is Sharper Than A Sword, Is It True ? ::

•August 15, 2008 • Leave a Comment

Is it true that a pen is sharper than a sword ? If we think about mega-battle in ancient time ago, of course, sword is the best weapon to kill enemies. But, if we curious about, what happened behind the battle, we can find that a pen has important matter in this issue. How come ? Well, a couple weeks ago, I’ve just watch several Mandarin movies such as Three Kingdom Ressurrection (Andi Lau) and The Batle of Red Cliff (Takeshi Kaneshiro). Both of them has same stories background at the age of Romance Three Kingdom. One of the interesting character from these story is Zhuge Liang. Who is Zhuge Liang ? He was a military advisor for Shu Dinasty, which Liu Bei as the ruler. He can’t fight as well as his Generals, but he can control his king and his armies. He just use his ability in weather forecast, poetry, and chess to encounter Cao Cao invasion. He was so expertise in writing as well as in diplomatic. I can say, Zhuge Liang is prefer use his pen rather than hi sword.

So, what is relationship of a pen and a sword. In my humble opinion, a pen is related with ethics, manners, and our words. And a sword usually related with fight or confrontation. Somehow, a pen can control a sword, like Zhuge Liang did. Want an example again ? A couple days ago, I saw my friends fought each other, just because of miss-understanding in email forum. Okay, let say both of them has initaial X and Y. In email, X ask Y to help our batch in some particular donation. X sent Y a letter with harsh words, eventhough he didn’t meant that. Why he did that ? Because X wrote it in jokes languages, but he forgot that Y has same character with him, hard-hearted and temperamental character. Of course, Y didn’t accept X words and replied it with anger words too. X and Y involved in a small confrontation (which symbolic with a sword) because of a couple words (symbolic by pen).

We can predict how depth an ocean, but we can’t predict an human heart. A sentences have no expresion, therefore it has a lot of perception between peoples in the world. That’s why, we need some ability to control our words, so that people can understand us and they not get anger. This is about the manner and the ethic to write something. It looks like difficult, but it has possibility to overcome it. In Indonesian’s proverb, we usually say “..Your tongue is your tiger..”, and nowadays, perhaps we can change these proverb with “..Your words and your tongue are your tiger..”. So my friends, before you say or write something, think first, and select your word, because a pen is sharper than a sword.. =)

:: Minangkabau Sebagai Eksportir Senapan::

•August 14, 2008 • Leave a Comment

Sedikit orang yang tahu bahwa pada abad ke-18, Minangkabau sudah terkenal sebagai pembuat senapan dan mengekspor senapan beserta pelurunya pada bangsa asing seperti Portugis maupun pada Kerajaan Aceh.

Seorang Belanda yang berkunjung ke Sumatera Barat pada saat awal Perang Padri menulis: “Rakyat Minangkabau adalah orang yang berani, terlatih dalam perang, penembak yang jitu dan dalam menghadapi kesulitan serta pandai menggunakan keadaan alam sebagai keuntungan dalam pertahanan”.

Dia juga menulis bahwa Rakyat Minangkabau sudah mengenal senapan dan bahkan telah mampu memproduksinya sendiri. Senapan – senapan itu persis dengan yang Belanda miliki, modelnya pun hanya tertinggal setahun dua tahun.

Daerah yang terkenal sebagai produsen senapan adalah Sungai Yani dan Sungai Puar. Harga senapan kualitas satu berkisar antara 10-12 gulden dan naik tajam pada saat perang Padri menjadi 20-30 gulden. Peluru yang dipakai orang Minang pada saat itu adalah peluru timah dan biasanya dicampur dengan pecahan porselen, besi kecil dan beras.

Pembuatan mesiu dilakukan oleh para wanita Minang dengan campuran saltpeter (diperoleh dari kotoran hewan meskipun terdapat saltpeter alam tetapi orang-orang Minang tidak mengetahuinya), belerang yang diperoleh dari gunung berapi maupun sumber air panas dan arang. Semua bahan-bahan tersebut diramu dan dimasak diatas wajan besi diatas api. Sebuah proses yang sederhana dan sangat berbahaya tetapi jarang sekali terjadi kecelakaan.

Tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali orang-orang Minang mengenal dan belajar membuat senapan. Ada dua kemungkinan asal transfer teknologi pembuatan senapan ini, yaitu:

Pertama adalah dari kekaisaran Ming di Cina pada kisaran tahun 1390 – 1527, karena pada akhir abad ke 14 dan awal abad ke 15, teknologi pembuatan mesiu dan senapan dari daratan Cina telah menyebar keseluruh semenajung Malaka dan Sumatera yang menyebabkan ekspansi besar-besaran kerajaan-kerajaan didaerah tersebut, jauh sebelum orang-orang Eropa datang memperkenalkan senapan mereka.

Kedua adalah dari kekaisaran Ottoman Turki. Invasi Portugis ke Laut India untuk menguasai jalur perdagangan lada pada tahun 1498 memaksa Kerajaan Aceh untuk meminta perlindungan militer pada Kekaisaran Ottoman Turki dengan membawa upeti dan sebuah surat pengakuan bahwa Kerajaan Aceh vassal pada Kekaisaran Ottoman dan sebagai balasan tahun 1520, Vezir Sinan Pasha mengirim ke Aceh meriam-meriam Turki dan Pedang.

Sultan Suleiman pada tahun 1537 mengirim armada lautnya ke Gujarat untuk menghancurkan angkatan laut Portugis dan pasukan ini tiba di Aceh untuk membantu Aceh dalam perang melawan Batak dan Portugis.

Sebuah surat dari Sultan Awaluddin pada tahun 1567 yang meminta bantuan militer dan Sultan Selim II bukan saja hanya mengirim bantuan militer tetapi juga beberapa ahli pembuat senapan dan meriam ke Aceh. Meriam-meriam ini akhirnya juga sampai di Minangkabau dan dipakai secara aktif melawan Belanda dalam perang Padri. Sayangnya salah satu penyebab pudarnya kekaisaran Ottoman ini adalah karena menolak mengadopsi teknologi terbaru kedalam senapannya.

 

Reference:
Rusli Amrin, Sumatera Barat hingga Plakat Panjang, Perang Saudara yang ditunggangi Belanda, Orang Padri Sebagai Pejuang, halaman 399, Penerbit Sinar Harapan.

Sun Laicen, Military Technology Transfers from Ming China, Journal of Southeast Asian Studies (2003), Cambridge University Press.

Xin Hua News, Ancient Gun from Ming Dinasty found in China, 7 February 2001.

Marsden, William, History of Sumatera, London 1783

John and Anne Summerfield, Walk in Splendor: Ceremonial Dress and the Minangkabau, UCLA Fowler Museum of Cultural History Textile Series, No. 4, 1999

Anthony Reid, The Ottoman in Southeast Asia, Asian Research Institute, National University of Singapore, 2005.

Rashid (Turkish Foreign Minister) to Musurus (Ambassador to Britain and the Netherlands), 11 Aug. 1873, Woltring (ed.), Bescheiden Betreffende de Buitenlandse Politiek van Nederland, 2de Periode (The Hague: Nijhoff, 1962.), 1, p.612.

Anthony Reid, An Indonesian Frontier: Acehnese and other Histories of Sumatra (Singapore: University of Singapore Press, 2004). Pp.74-78.

Reid, An Indonesian Frontier, pp.79-87. Also Anthony Reid, Southeast Asia in the Age of Commerce Vol. II (New Haven: Yale University Press, 1993), pp. 146-7.

http://www.pelaminanminang.com/tahukah/minangkabau_produsen_eksportir_senapan.html

:: Minang Art of War ::

•August 14, 2008 • Leave a Comment

Sun Tzu adalah seorang ahli strategi militer terkenal bangsa Cina yang menulis buku “The Art of War”, sebuah buku mengenai strategi militer klasik yang dapat diaplikasikan dalam banyak bidang mulai dari bisnis hingga pemasaran.

Di Minangkabau juga terdapat sebuah buku tentang strategi militer yang mengajarkan kepada pasukan Belanda cara berperang lebih baik dalam melawan orang-orang Minang yang menjadi buku wajib untuk dibaca perwira-perwira Belanda yang ditugaskan ke Sumatera Barat.

Kapten Hendriks menulis dalam catatan-catatannya yang kemudian diterbitkan dalam sebuah buku “Berperang di Sumatera” pada tahun 1881. Buku itu merupakan petunjuk-petunjuk bagaimana berperang di Minangkabau berdasarkan banyak kekalahan dan pengalaman pahit Belanda dimasa lalu.

Belanda boleh jadi sangat paham dalam berperang di Jawa namun karakteristik orang Jawa dalam berperang sangatlah berbeda dengan orang Minangkabau demikian juga dalam pengetahuan tentang peralatan perang. Pasukan Jawa lebih banyak mengandalkan mobilitas yang tinggi dan besarnya pasukan sehingga perang-perang di tanah Jawa lebih banyak dihabiskan Belanda untuk mengejar musuh.

Orang-orang Minang sangat ahli dalam perang benteng hingga lebih senang bertahan dalam benteng-benteng dan memanfaatkan keadaan alam sebagai pertahanan. Orang-orang Minang jarang sekali menyerang pasukan Belanda dilapangan terbuka, mereka biasanya menyerang saat pasukan Belanda sedang dalam barisan dan mereka juga biasa untuk bertahan sampai mati walaupun memiliki kesempatan untuk melarikan diri.

Senjata yang biasa dipakai oleh rakyat Minangkabau adalah senapan, keris, kelewang, tombak dan sumpit (tidak pernah memakai anak panah yang beracun, yang dipakai adalah getah aren yang akan membuat luka menjadi sakit seperti terbakar). Rakyat Minangkabau memakai ranjau dari bambu-bambu yang sangat runcing untuk dipasang dijalan yang diduga akan dilalui musuh. Tetapi sistem pertahanan yang terpenting adalah pagar-pagar yang terdiri dari bambu berduri panjang yang ditanam sangat rapat sehingga mereka dapat mengamati gerak musuh tanpa terlihat. Pohon bambu berduri ini bila sudah berumur empat tahun akan menjadi hutan berduri panjang yang mustahil untuk ditembus, namanya adalah bambu aur.

Hendriks juga menulis agar pasukan Belanda jangan sekali-kali mengejar musuh yang sedang melarikan diri dari Benteng mereka karena kebanyakan ini adalah jebakan, dimana sebuah pasukan yang lain telah disiapkan menunggu dan bersembunyi dalam semak, bebatuan maupun perbukitan. Bila sebuah daerah telah kalah, mereka juga jarang menyerahkan diri, biasanya mereka bertahan dihutan hingga berbulan-bulan dan menyerang transportasi logistik pasukan Belanda dimalam hari.

Sebuah catatan yang dimuat dalam “Berperang di Sumatera” ini adalah tentang kehebatan orang – orang Padri yang hanya dengan pasukan berkekuatan 30 orang mampu memukul mundur pasukan Belanda yang berjumlah 2000 serdadu.

Pada peperangan dengan Pauh didiskripsikan bahwa kampung Pauh dikelilingi benteng dari tembok batu setebal 5 meter dengan tinggi yang bervariasi antara 3 sampai 5 meter. Seorang letnan Belanda bernama Boelhouwer dalam bukunya “Kenang – kenangan sewaktu di Sumatera Barat tahun 1831 – 1834″ yang diterbitkan di Belanda tahun 1841 melukiskan pertahanan Bonjol sebagai berikut :

“Bonjol terletak diatas bukit berbentuk segi empat panjang yang dipisahkan oleh sebuah sungai dengan aliran yang deras. Tiga sisi Bonjol dikelilingi oleh dinding pertahanan dua lapis setinggi kurang lebih 3 meter. Tembok luar terdiri dari batu-batu besar yang merupakan tembok benteng yang kokoh dengan teknik pembuatan hampir sama seperti benteng-benteng di Eropa. Diantara kedua tembok benteng itu dibuat parit yang dalam dengan lebar 4 meter. Diatas tembok benteng itu ditanami bambu berduri yang sudah hampir berupa hutan duri yang tidak dapat ditembus. Orang-orang Padri menempatkan pengintai dan penembak jitu dibalik bambu berduri ini untuk memantau pergerakan pasukan Belanda. Dibeberapa tempat terlihat meriam-merian kaliber 12 pon dengan pedati beroda kayu tanpa jari-jari untuk mengangkutnya dan didekat meriam tersebut terdapat batu bulat sebagai pengganti peluru. Sungguh mengherankan bagaimana mereka dapat membawa meriam sebesar itu keatas bukit sedangkan kami (maksudnya Belanda) hanya mampu membawa meriam kaliber 3 pon, itupun harus dipereteli. Diluar Bonjol terdapat mesjid berbentuk segi empat yang dibangun tanpa paku dan besi dengan atap terdiri dari 5 lapis yang makin lama makin kecil dan tertutup sirap, bahan yang sama dengan yang dipakai untuk atap gereja – gereja di Eropa dan dapat menampung kurang lebih 3000 orang. Bila ada kemauan, bangsa Minang ini dapat mencapai kemajuan setara dengan Eropa”

Dengan semua kelebihan dan kemampuan yang dimiliki seharusnya mustahil Minangkabau dapat ditaklukkan oleh Belanda. Bangsa Aceh dan tentara kerajaan Majapahitpun gagal untuk menaklukkan Minangkabau. Tetapi sungguh disayangkan bahwa bangsa kita ini tidak pernah juga kekurangan pengkhianat, orang yang berjuang untuk kepentingan pribadi dan sesaat. Belanda sangat berhasil memelihara sifat bangsa kita yang bobrok seperti gampang dibeli, mudah dihasut, senang dibodohi, senang disogok dan disuap. Mereka juga cukup berhasil dalam memperalat adat dan mengikis demokrasi di Minang dengan memperkenalkan budaya aristokrasi.

Sangat disayangkan juga bahwa belum ada satupun buku tentang penjajahan Belanda yang mendalam, bila ada akan segera terlihat bahwa Belanda adalah bangsa yang hebat dalam membodohi bangsa lain dan suatu tantangan bagi ahli sejarah untuk membuat buku seperti itu sebagai cermin menghindari kesalahan – kesalahan dimasa lalu untuk kepentingan dimasa depan.

Reference:
Hendriks, Oorlogvoeren op Sumatera, Indische Militair Tijdschrift, 1881.

Rusli Amrin, Sumatera Barat hingga Plakat Panjang, Penerbit Sinar Harapan.

Rusli Amran, Padang Riwayatmu Dulu, 1988, Cetakan Kedua, Penerbit CV. Yasaguna.

http://www.pelaminanminang.com/tahukah/seni_perang_minangkabau.html

:: Proud as Minangnese ::

•August 14, 2008 • 4 Comments

Iseng-iseng di tengah waktu istirahat kantor, saya mencoba membuka beberapa blog dari teman-teman saya. Bukannya pengen magabut alias makan gaji buta, tapi load kerja’an saat itu belum terlalu deras. Nah, ketika saya membuka blog Uni Vara, saya menemukan sebuah artikel yang menarik .Ya menarik, karena artikel Uni Vara ini menyentil tentang jati diri saya sebagai orang Minang. Sudah lebih dari 25 tahun saya tinggal di Surabaya, dan belum sekalipun tinggal di Ranah Minang, jadi bisa dikatakan informasi dan engetahuan tentang adat Minang saya masih minus. Bahkan baru 2 tahun terakhir ini saya bisa berbicara dengan menggunakan Bahasa Minang, walaupun hanya sebatas bahasa pergaulan. Itu pun terbantu, karena ayah dan ibu saya di rumah selalu berbahasa Minang.

Begitu lulus kuliah dan mulai bekerja, saya menemukan sebuah fenomena yang cukup aneh. Saat itu saya ditempatkan di wilayah Prabumulih, Sumatera Selatan, dan yang saya temui adalah, 75% rekan kerja saya di perusahaan biru ini berasal dari Urang Awak Minang. Kemudian, saya sempat dikirim ke KL selama seminggu, tentu saja, saya tidak ingin melewatkan kesempatan berbelanja di Bukit Bintang. Ternyata saya juga menmukan banyak sekali pedagang dari Minang, baik pedagang kelontong, kuliner, maupun pakaian. Bahkan orang Malaysia sendiri sangat respek dengan kelompk pedagang dari Minang ini. Mungkin, ada kemiripan budaya antara Minang dengan Malaysia yang membuat mereka bisa menyatu.

Beberapa bulan kemudian, saya dikirim lagi ke Livingston, Scotland, UK. Dan yang luar biasa lagi, masyarakat disana juga mengenal Minang melalui makanan rendangnya. Rekan-rekan dari Malaysia yang menepuh studi di sana pun juga dapat berbahasa Minang. Saat itu lah saya berpikir, alangkah malu nya bila kita tidak mengenal adat istiadat dan nenek moyang saya sendiri. Bangsa ini justru akan seperti bangsa tidak bermartabat dan bermoral bila tidak mampu mengenal prinsip dasar dari asal usulnya.

Orang lain saja telah mampu mempelajari dan menguasai adat istiadat bangsa kita, maka jangan sampai kelak anak cucu saya justru mempelajari budaya Minang di Negeri Orang, bukan di kampungnya sendiri. So, I am proud to be a Minangnese…

:: Misteri Supriyadi ::

•August 13, 2008 • 4 Comments

Seolah menguak misteri kematiannya yang telah berusia sekitar 63 tahun yang lalu, kembali nama Shudanco Supriyadi muncul kembali dalam detik-detik menjelang HUT Kemerdekaan RI ke-63 tahun ini. Kematian dari pemimpin pemberontakan PETA di Blitar ini seolah menjadi bahan kontroversi yang hingga saat ini belum jelas kepastiannya. Adalah Andaryoko Wisnu Prabu, seorang pria berusia 89 tahun yang tinggal di Semarang, yang membuka kembali tabir bahwa dia lah Supriyadi yang sebenarnya. Namun dari pihak keluarga Supriyadi di Blitar memiliki jawaban lain, bahwa kerabat mereka itu telah dieksekusi oleh pihak Jepang di daerah Tuban. Sumber-sumber lain mengatakan bahwa Supriyadi justru meninggal di dekat Gunung Kelud dalam usaha pelariannya. Manakah fakta yang benar dari seorang Supriyadi ini? Hingga saat ini, belum ada bukti-bukti yang menunjukkan dimanakah makam Supriyadi, atau bila beliau masih hidup, dimanakan tempat bermukimnya. Yang jelas, beliau merupakan salah satu Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres No. 063/TK/1975.

Supriyadi dilahirkan di Trenggalek, Jawa Timur pada 13 April 1923. Nama kecilnya adalah Priambodo, namun karena sering sakit, namanya diganti menjadi Supriyadi. Setelah menamatkan SMP ia meneruskan pendidikannya untuk menjadi seorang birokrat mengikuti jejak sang ayah, yang bertugas sebagai wedana Blitar. Belum sempat menamatkan sekolahnya, Asia Raya dikejutkan dengan serangan cepat militer Jepang, termasuk ke wilayah Indonesia. Kondisi ini memutar nasib Supriyadi untuk memilih pendidikan militer Jepang yang bernama PETA di Tangerang, Jawa Barat. Selanjutnya, ia ditugaskan ke wilayah Blitar dengan pangkat Shudanco. Disinilah rasa nasionalisme Supriyadi dkk terketuk ketika melihat penderitaan rakyat Blitar saat itu.

Ketika Bung Karno berkunjung ke rumah keluarganya di Blitar, prajurit-prajurit PETA ini menyampaikan keinginan mereka untuk memberontak kepada militer Jepang, dan memohon pendapat dari Bung Karno. Bung Karno mengatakan bahwa setiap perbuatan akan ada konsekuesinya. Namun, Supriyadi, yang merupakan pimpinan pemberontak, meyakinkan bahwa usaha mereka ini akan berhasil.

Menurut rencana, pemberontakan dilakukan lebih awal, yakni 5 Februari 1945 saat dilakukan latihan bersama (Daidan) batalyon PETA Jawa Timur di Tuban. Namun, rencana ini gagal, karena Jepang mendadak membatalkan jalannya latihan. Perwira PETA yang terlanjur datang ke Tuban dipulangkan masing-masing ke kotanya.

Syahdan pada 9 Februari 1945, Supriyadi menemui guru spiritualnya, Mbah Kasan Bendo. Ia mengutarakan maksud untuk melawan Jepang. Konon, saat itu Kasan Bendo memintanya untuk bersabar dan menunda gerakan hingga 4 bulan. “Tapi kalau ananda mau juga melawan tentara Jepang sekarang, saya hanya dapat memberikan restu kepadamu, karena perjuanganmu itu adalah mulia.”

Pesan itu disampaikan Supriyadi kepada rekan-rekannya. Setelah sempat menemui pimpinan PUTERA, Soekarno dan gagal mendapat restu, Supriyadi mengadakan rapat terakhirnya 13 Februari 1945 di kamar Shudanco Halir Mangundjidjaja. Hadir Shudanco Moeradi, Chudanco Ismangil, Bundanco Soenanto dan Bundanco Soeparjono. Hasilnya, pemberontakan akan dilakukan besok. Mereka masing-masing tahu risikonya bila gagal, paling ringan disiksa dan paling berat hukuman mati.

Rencana ini terkesan tergesa-gesa karena Supriyadi dan rekan-rekannya khawatir tindak tanduk mereka telah dimonitor Jepang. Shudanco Halir menceritakan di Blitar baru saja datang satu gerbong anggota Kempetai yang baru datang dari Semarang. Mereka menginap di Hotel Sakura. Supriyadi cs menduga, kedatangan Kempetai untuk menangkap dirinya dan rekan-rekannya.

14 Februari 1945, pukul 03.00, senjata dan peluru dibagi-bagikan ke anggota PETA. Jumlah yang ikut serta 360 orang. Setengah jam kemudian, Bundanco Soedarmo menembakkan mortir ke Hotel Sakura. Hotel direbut dan tentara PETA menurunkan slogan “Indonesia Akan Merdeka” (janji proganda Jepang) dan menggantinya dengan spanduk “Indonesia Sudah Merdeka.” Merah putih juga dikibarkan.

Pasukan PETA melucuti senjata para polisi dan membebaskan tawanan dari penjara. Beberapa orang Jepang yang ditemui dibunuh. Mereka lalu bergerak menyebar ke tempat yang sudah ditentukan sebelumnya. Namun entah kenapa, rencana penyebaran malah gagal. Seluruh pasukan PETA seusai serangan justru berkumpul di Hutan Ngancar, perbatasan Kediri.

Sejak awal, Jepang berhati-hati dalam menangani pemberontakan PETA. Mereka tidak terlalu ofensif dan cenderung menggunakan jalan persuasif untuk menjinakkan Supriyadi dan rekan-rekannya. Hal ini dilakukan demi menghindari tersulutnya kemarahan Daidan (Batalyon) PETA yang lain yang bisa saja malahan membuat pemberontakan meluas dan merembet ke mana-kemana.

Setelah kota Blitar berhasil diduduki kembali, langkah diplomasi pun dibuat. Kolonel Katagiri yang ditunjuk untuk memimpin operasi penumpasan mendatangi pasukan Supriyadi yang bertahan di Hutan Ngancar, perbatasan Kediri. 19 Februari 1945, di Sumberlumbu, Katagiri bertemu dengan Muradi, salah satu pemimpin pemberontak. Pasukan PETA menawarkan penyerahan diri bersyarat. Adapun syaratnya adalah:

1. Mempercepat kemerdekaan Indonesia

2. Para tentara PETA yang terlibat pemberontakan takkan dilucuti senjatanya.

3. Aksi tentara PETA yang dilakukan pada 14 Februari 1945 di Kota Blitar takkan dimintai perrtanggungjawaban.

Katagiri menyetujui syarat tersebut. Sebagai tanda sepakat, ia menyerahkan pedang perwiranya kepada Muradi untuk disimpan. Muradi beserta seluruh pasukannya kembali ke Blitar.

Nah, pada saat kembali dari Ngancar inilah, Supriyadi terakhir kali terlihat. Persisnya ia hilang di dukuh Panceran, Ngancar. Ada dugaan dia diculik secara diam-diam dan dibunuh Jepang di Gunung Kelud, namun berkembang juga isu bahwa Supriyadi sengaja melarikan diri. Mungkin ia memang sudah tak yakin Jepang akan memenuhi syarat yang diajukan PETA.

Jika itu yang ia rasakan, Supriyadi benar. Kesepakatan Sumberlumbu ternyata tak diakui oleh pimpinan tentara Jepang di Jakarta. Mereka meminta Kempetai tetap menuntut para pelaku diproses. Dari hasil pilah memilah dan negosiasi, diberangkatkanlah 78 tentara PETA ke Jakarta untuk menghadapi pengadilan militer Jepang. Anggota lain yang terlibat hanya dikarantina di mess.
Hasil dari sidang militer, sebanyak 6 orang dijatuhi hukuman mati, 6 orang diganjar hukuman seumur hidup dan sisanya dihukum antara beberapa bulan sampai beberapa tahun. Tak lama kemudian, Shudanco Moeradi, Chudanco Ismangil, Shudanco Halir Mangkoedjidjaja, Bundanco Soenanto dan Bundanco Soeparjono menjalani eksekusi mati dengan dipenggal kepalanya di Eereveld, Ancol.

Pada tanggal 6 Oktober 1945, pemerintah RI mengumumkan bahwa Supriyadi diangkat sebagai Menteri Keamanan Negara pada kabinet I. Namun, ia tak kunjung tiba dan posisinya digantikan oleh Muhmmad Soeljoadikusuma pada 20 Oktober 1945. Hingga saat ini, Supriyadi belum jela diketahui kondisinya, hanya saja ia pernah berpesan kepada ibunya beberapa hari sebelum pecahnya pemberontakan, apabila ia tidak kembali ke rumah dalam waktu 5 tahun, itu tandanya dirinya sudah meninggal dunia.

:: Ali, In Memoriam ::

•August 13, 2008 • Leave a Comment

Sebuah persahabatan tidak bisa diukur dengan waktu, terkadang orang yang sudah lama kita kenal, belum tentu memberikan jaminan arti sebuah kehidupan dalam hidup kita. Namun sebaliknya, cukup singkat pertemuan kita dengan dia, namun sudah banyak nilai-nilai kehidupan yang membuat mata kita terbuka akan kedudukan kita di muka bumi ini. Inilah yang saya alami bersama teman saya [alm] Ali Nurcholis. Jujur saja, antara saya dengan dia bukanlah teman dekat di masa kuliah dulu. Hanya ada 2 hal yang membuat kami dekat, yang pertama, saat camp jurusan di daerah Gondang, Lamongan. Saya masih ingat saat itu, dia “menyelamatkan” saya dari amukan senior-senior yang sudah meledak amarahnya karena ulah saya. Kedua, saat kami sama-sama mengambil mata kuliah Sistem Linier di semeter dua. Namun saya menyerah di tengah jalan oleh sebab terlibat permasalahan dengan dosen saat itu. Sementara Ali terus melaju hingga mendapat nilai A, dia memang tergolong anak yang pandai dan rajin semenjak SMU di Kediri. Kelak, semangat Ali ini pula yang mendorong saya sehingga mampu meraih nilai A di Sistem Linier.

Namun, apa hendak dikata. Allah memiliki jalan lain. Ketika kami sedang mempersiapkan pengkaderan massal untuk adik-adik kelas di jurusan, muncul kabar bahwa Ali mengalami kecelakaan di Mojokerto, dan nyawanya tidak terselamatkan. Sontak, teman-teman segera berkoordinasi untuk segea menuju ke Kediri, tempat almarhum dimakamkan. Begitu tiba disana, hati saya tergetar, kediaman Ali tidak seperti yang saya bayangkan. Rumahnya sangat-sangat sederhana dengan berbalutkan gubuk bambu. Ketika keluarganya menyambut kami, saya tak bisa menyembunyikan rasa sedih yang mendalam. Ali adalah tumpuan hidup bagi keluarganya. Ia telah terbiasa hidup mandiri dan jauh dari keluarga, namun ia sedikitpun tidak merubah kerendahan hatinya. Ali telah memberikan contoh bagi saya, bahwa kekuatan hati jauh lebih besar daripada kekuatan harta. Kini, tepat 5 tahun ia kembali ke haribaan Sang Pencipta. Semoga Allah menghapus semua dosa nya, dan diterima segala amal kebaikannya…Amien..

 

Move on, be brave
Don’t weep at my grave
Because I am no longer here
But please never let
Your memory of me disappear (Dream Theater – Spirit Carries On)

 

- This lyrics always remind me about you my friend -

:: Menahan Nafsu ::

•August 13, 2008 • 2 Comments

Umur dunia semakin hari semakin beranjak tua, begitu juga dengan perkembangan kebutuhan seseorang yang makin hari makin bertambah. Adalah hal yang mahfum, kalau manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang diraihnya. Andaikan diberi satu gunung emas, maka dia akan berusaha untuk mencari gunung emas yang kedua, tak peduli dengan apa yang berada di sekitarnya, bahkan kalau perlu dengan menghalalkan segala cara agar keinginannya tercapai.

Antara nafsu ataukah kebutuhan? Manakah yang akan kita pilih? Pantaskah keinginan kita terpenuhi dengan mengorbankan orang lain? Walaupun dari dalam sanubari ini mengatakan tidak pantas, namun dalam prakteknya seringkali kita melupakan kata TIDAK tersebut. Karena, kalau tidak mendahulukan kepentingan pribadi dulu, kita yang akan didahulukan orang lain..hmmm…Good reason..Tapi jika kita menilik keteladanan Bung Hatta, sebuah fenomena menarik bisa kita tarik dari perjalanan hidup beliau.

Di era 1950-an, dunia sedang digandrungi merek sepatu bermutu tinggi dan pastinya sangat mahal. Merke itu adalah Bally, dan Bung Hatta, yang saat itu masih menjad Wakil Presiden Pertama RI, berminat pada sepatu tersebut. Ia pun menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu yang beliau idamkan tersebut.

Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu  terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai  taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Ironisnya, hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya  tak pernah mencukupi.

Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu  itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu  Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang  menjadi kenalan Bung Hatta.

“Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri,” kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta.

Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang  lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi  konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan  tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya kita dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang  melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi  berutang dan meminta sedekah dari orang asing. [ kiriman dari SAM ]