:: Medan, Cermin Indahnya Keberagaman ::

Tak terasa, 23 tahun sudah saya meninggalkan kota kelahiran tercinta, Medan. Tak banyak yang saya ingat dari kota ini di masa kecil, selain kenangan perjuangan orang tua saya disini, kompaknya hubungan persaudaraan kami di Medan, serta pengalaman tak terlupakan dari ibunda, dijambret di daerah kebon binatang lama. Ada sebuah kerinduan mendalam untuk mengunjungi kembali kota tersebut.

Karena kebijakan dari perusahaan, perjalanan panjang dari Pekanbaru-Jakarta-Medan dengan burung besi terpaksa saya lalui hingga berakhir di Bandara Polonia Medan. Padahal maskapai maskapai tertentu justru memberikan direct flight dari Pekanbaru-Medan. Tapi, ya disyukuri sajalah, mana dapat makan gratis di pesawat =).

Tidak ada perubahan yang berarti dari bandara ini sejak keluarga kami hengkang dari Medan, selain penambahan beberapa fasilitas pelayanan tiket dan juga kios-kios bandara. Dan yang paling riskan adalah, di dekat bandara sekarang sudah bermunculan perumahan-perumahan elite yang rata-rata berlantai dua. Agak seram juga melihat keadaan seperti ini, mengingat di tahun 2005, kecelakaan pesawat menghantam pemukiman penduduk di sekitar Padang Bulan, daerah yang notabene dekat dengan bandara. Disamping itu, angka dan tingkat kebisingan dari aktivitas bandara pasti berpengaruh dengan kualitas kesehatan dari masyarakat setempat. Rencananya, Bandara Polonia ini akan digantikan posisinya oleh Bandara Kuala Namu yang terletak di Deli Serdang. Dulu, bila saya susah sekali makan, maka ibu dan bapak kerap membawa saya ke bandara. Menurut beliau, ketika tiba di bandara, selera makan saya langsung lahap jaya (..kelakuan yang aneh =)..).

Menyusuri pusat Kota Medan layaknya menyusuri kota tua yang telah bercampur dengan modernisasi di sana sini. Hal itu bisa kita lihat di kawasan Kesawan Square. Kawasan ini sejak dahulu telah terkenal sebagai pusat niaga terbesar di Medan. Etnis yang berkumpul disini lumayan kompleks,mulai dari India, Tionghoa, Melayu, Minang, Jawa, dan Batak. Bangunan-bangunan tua yang tetap bertahan antara lain Gedung London Sumatera yang dulunya dimiliki konsorsium perkebunan ternama Harrison & Crossfield Plc London, Kediaman Tjong A Fie (bekas kapitan dan orang terkaya di Medan), Café Tip Top (terkenal semenjak zaman kolonial hingga sekarang), serta beberapa gedung yang lain. Beberapa tahun yang lalu, Kesawan Square jugz memiliki tempat makanan menyerupai Kya-Kya di Surabaya. Namun saat ini tempat tersebut sudah tidak ada lagi. Sebagai pengantinya adalah kawasan pujasera Merdeka Walk yang tiap sore-malam ramai sebagai tempat melepas penat masyarakat Medan.

Tidak jauh dari Kesawan Square, terdapat salah satu ikon dari Kota Medan, yakni Istana Maimoon. Istana bernuansa Moor, Eropa, dan Melayu ini merupakan peninggalan Kesultanan Deli yang hingga saat ini masih bertahta. Bangunan ini mencerminkan perkembangan Islam di Sumatera yang telah modern, dimana tingkat arsitekturnya telah mencampur beberapa unsur budaya dunia. Di Istana Maimoon inilah, keluarga Sultan Deli bermukim hingga sat ini. Di salah satu sudut istana, terdapat salah satu bagian dari meriam keramat, yakni Meriam Puntung yang dahulu terbagi menjadi dua, satu di Deli ini, dan satu lagi berada di Tanah Karo. Menurut legenda, meriam ini merupakan penjelmaan dari adik Putri Hijau dari Kerajaan Haru yang berjuang mempertahankan Istana Haru dari gempuran armada Aceh. Karena terlalu sering memuntahkan tembakan, meriam menjadi panas dan akhirnya terbelah menjadi dua. Apapun kisahnya, istana ini masih menampilkan pesona kemegahan masa lalu yang tak lekang oleh masa.

Berkunjung ke Istana Maimoon kurang lengkap rasanya bila tidak mampir ke Masjid Raya. Masyarakat disana sering menyebutnya sebagai Masjid Simpang Raya, karena ada bangunan (mungkin rumah makan Minang) bernama Simpang Raya yang berada di depannya. Kalau tukang ojek dan betor (becak motor) menyebutnya sebagai Masjid Raya Sisingamangaraja. Namun nama resmi masjid ini adalah Masjid Raya Al Ma’shun. Dibangun oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam pada tahun 1906 M, masjid unik ini terkenal dengan keindahan ornamen luar dan dalamnya. Memadukan gaya gado-gado antara Moor, India, Andalusia, dan Eropa, masjid ini juga telah menjadi salah satu ikon dari Kota Raya, julukan dari Kota Medan. Bila bulan Ramadhan tiba, di sekitar masjid berdiri tenda-tenda resmi penjual makanan, dan tak jarang pula ada konser di Taman Sri Deli, yang tepat berada di depannya.

Melihat banyaknya perpaduan dan pencampuran gaya arsitektur kebudayaan besar dunia, mencerminkan betapa kekuatan kota ini bergantung kepada beragamnya bangsa yang mendiami kota. Perpaduan budaya ini pula yang membentuk watak bertahan hidup yang terkenal dari penduduk Medan. Medan kini telah berubah menjadi kota metropolis di penjuru utara Sumatera. Walau demikian, masyarakatnya masih mau menghargai sisa-sisa peninggalan masa lalu dimana semangat kejayaan masa lalu mengiringi degup jantung kota ini. Medan selalu membuat saya terkenang dan ingin kembali. Apa alasannya? Tidak ada alasan yang berbelit-belit, karena “..Ini Medan, Bung..!!..”.

Old and new building in Kesawan Square

One of old building in Kesawan

Brick style building in Kesawan Square

Bank Danamon @ 70th year old building

Tjong A Fie Mansion

A crossroad in Medan

Maimoon Palace, the house of Deli Sultanate

A corner of Masjid Raya Medan

Conversasions after pray

Medan Great Mosque (Masjid Raya Medan)

Advertisements

~ by aldiparis on November 10, 2010.

5 Responses to “:: Medan, Cermin Indahnya Keberagaman ::”

  1. nice post! 🙂

  2. hello I was luck to find your topic in google
    your subject is marvelous
    I obtain much in your blog really thanks very much
    btw the theme of you website is really terrific
    where can find it

  3. nice post..
    Medan memang cermin indahnya keberagaman dari segi budaya dan agama juga semua ada disini, keras tapi tetap akur..

    Teringat awal kuliah dulu saya sangat terkejut dengan keberagaman ini, karena daerah asal saya aceh notabene Islam, tapi di Medanlah saya belajar tentang keberagaman dan toleransi umat beragama 🙂

    Salam hangat dari Medan 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: