:: Jelajah Sekitaran Solo ::

 

Gerbang Utara Kraton Kasunanan

Kali ini, angin membawa saya menjelajahi kota yang selama ini cuma jadi perlintasan kami menuju Jogja, yup..betul sekali sodara..kota itu adalah Solo. Sebenarnya keinginan untuk menjelajahi Solo sudah cukup lama terpendam, namun ya itu tadi..kalah kuat dengan aura Jogja. Penjelajahan Solo kami bagi menjadi 3 tahap. Tahap I menuju ke Karang Anyar (yah ini mah udah keluar Solo), tahap II jelajah Prambanan (ini juga di luar kota), dan tahap III keliling kampung di kota Solo.

Oia, perjalanan ini saya tempuh bersama keluarga, kebetulan saya lagi cuti, dan hari lebaran juga sudah lewat 2 hari..so, kita coba “family backpacking”. Singkat cerita, jalur yang kami tempuh melewati rute selatan Madiun-Ponorogo-Pacitan. Cerita mengenai Pacitan kita skip saja yak, tapi sumpah deh..memang cantik nih alam Pacitan. Kalau di Vietnam ada gua (yang kata orang sana sih cakep) dekat Halong Bay, maka di Pacitan ada Goa Gong dan Tabuhan yang luar biasa cakepnya. Timbul penyesalan, kenapa dari dulu gak kemari. Tapi ya sudahlah, namanya juga cari pengalaman..lain kali, maen ke Pacian lagi deh.

Setelah semalam menginap di Pacitan, perjalanan kami tempuh menuju Solo. 2 jam perjalanan kami tempuh hingga memasuki tapal batas kota. Target utama adalah tempat bobok di daerah Kauman. Kenapa milih disini? Ya, maen feeling aja lah..Cakra Home Stay akhirnya menjadi pilihan. Homestay ini merupakan kediaman dari Danar Hadi, Saudagar Batik Solo jaman dahulu. Tempatnya sederhana. unik dan banyak barang-barang antik di dalamnya. Rasanya kalau tinggal disini, serasa terbawa aura Solo tempo doeloe. Apalagi pada malam-malam tertentu, ada acara kesenian di salah satu hall nya. Kamarnya pun lumayan murah, yakni Rp. 150,000/malam.<

Galabo

Malam harinya, disaat perut merasakan penderitaan akibat lapar, kawasan Galabo (Gladak Langen Bogan) menjadi pelampiasan. Tidak tanggung-tanggung, timlo dan mie goreng menjadi korban keganasan kami. Karena rasa lapar yang menggelora inilah, kami tidak memikirkan, mana yang “the best culiner” nya, semuanya sama saja, tak heran kami pun jadi kalap =). Kawasan sepanjang kurang lebih 1 km ini membentang di sepanjang Jl. Mas Sunaryo (Beteng), Solo. Lokasinya pun tidak jauh dari pintu menuju alun-alun utara kraton. Selesai mamam, kami balik ke homestay untuk berlayar ke pulau kapuk.

 

Tahap I

And the journey begin…hasrat untuk mengunjungi kompleks candi super-unik sudah tak terbendung. Perjalanan menanjak ke arah Tawangmangu terasa menarik saat sekumpulan perbukitan yang disulap menjadi perkebunan teh menyambut kedatangan kami. Yup..tempat tersebut terkenal dengan nama Kemuning. Saya membayangkan kalau, Puncak sekitar 20 tahun yang lalu seperti ini. Udara segar, aliran air jernih, serta langit biru yang cantik turut menghiasi bukit-bukit teh di Kemuning. Sempat terpikirkan, apakah dasar wallpapers Windows XP diambil dari perkebunan ini yak? Wallahul a’lam. Sekitar 30 menit dari kompleks perkebunan

Gerbang Ratu Boko

teh, dengan jalan yang cukup tajam tanjakannya, tibalah kami di Candi Cetha. Disini, yang unik adalah, adanya simbol alat kelamin wanita dari batu andesit. Struktur percandiannya juga berundak-undak mirip di Bali. Bangunan candi ini dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit. karena cuaca sudah mulai mendung dan kabut mulai turun, kami bergegas menuju Candi Sukuh yang berada kurang lebih 1 km dari Candi Cetho. Candi ini pun juga unik, karena banyak sekali ditemukan perlambang alat kelamin laki-laki. Candi ini juga dibangun sezaman dengan Candi Cetha, yakni pada masa pemerintahan Ratu Suhita dari Majapahit. Ya, tak heran, alat kelamin laki-laki di ekspos, karena yang memberi titah ratu…Struktur candi ini lebih menyerupai candi-candi piramida di Aztec. Hmm..apakah nenek moyang kita sudah berlayar hingga ke Mexico yak? Wallahul’alam juga. Setelah puas dengan Candi Sukuh, tiba saatnya untuk menikmati

Ratu Boko

keindahan alam dari Air Terjun Jumog. Dimana itu? Letaknya tidak jauh, sekitar 500-meter dari Candi Sukuh turun menyusuri jalan beraspal yang kondisinya cukup baik. Di hari libur, na’udzubillah ramenya, apalagi dengan lahan parkir yang cukup luas, jejeran sepeda motor mendominasi kawasan air terjun ini. Ya sudahlah, kita nikmati saja kesegaran air terjun ini, walaupun foto-foto banyak yang gagal saya dapatkan. Tak terasa sudah sore hari, saatnya kembali ke Solo untuk beristirahat.

Tahap II

Reruntuhan Candi Ijo

Kompleks Prambanan menjadi target keesokan harinya..!! Tak heran, kami pun berangkat pagi-pagi sekali karena mendapat informasi kalau jam 06.00, Prambanan sudah buka tapi masih sepi banget. Saat berjalan menuju ke Prambanan, pandangan saya menoleh ke arah timur, ke arah bukit dimana Ratu Boko berada, dan saya lihat langit cukup bagus..yess..!! that’s my point. Mobil langsung diarahkan menuju ke sana, dengan sedikit tanjakan sekitar 400-meter dpl, kawasan Candi Ijo menjadi tempat pertama yang kami singgahi. Ada 5 candi dimana kelima-limanya masih tegak berdiri kokoh diatas sebuah bukit. Sejatinya, kompleks ini memiliki sejumlah bagunan kuno sebanyak 17 buah, namun hanya beberapa yang berhjasil direnovasi. Candi Ijo adalah candi yang letaknya paling tinggi di tapal batas Yogyakarta yang menyuguhkan pesona alam dan budaya serta pesawat yang tengah landing. Menurut informasi, keberadaan candi ini membuat landasan Bandara Adisutjipto tak bisa diperpanjang ke arah timur.

Candi Banyunibo

Selanjutnya, perjalanan diteruskan menuju Candi Banyunibo. Candi Buddha ini berada tidak jauh dari Candi Ratu Boko, yaitu di bagian sebelah timur dari kota Yogyakarta ke arah kota Wonosari. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno. Pada bagian atas candi ini terdapat sebuah stupa yang merupakan ciri khas agama Buddha. Ada sebuah kanal yang memisahkan antara candi dengan jalan utama, sehingga kita akan terhubung oleh jembatan. Candi ini cukup cantik dengan latar belakang perbukitan hijau. Tak terasa sudah tengah hari, saatnya kami balik ke Solo, ups…Candi Ratu Boko jangan sampai dilewatkan…cerita mengenai candi ini sudah cukup melegenda dan mengakar. Dahulunya, kompleks ini merupakan tempat tinggal biksu-biksu Mataram Kuno yang disulap menjadi istana kerajaan. Candi ini juga yang menjadi tempat terakhir Balaputradewa menginjakkan kaki di Bhumi Mataram, sebelum dia melarikan diri ke Sumatera untuk bertahta disana. Well, badan sudah capek-capek dan perut udah laper, saatnya balik ke Solo.

Tahap III

Kampung Batik Kauman

It’s shopping time..kalau ke Solo tak lengkap rasanya tidak membawa oleh-oleh batik. Tapi, sebaiknya kita berkeliling di kawasan kampung-kampung Solo terutama Laweyan dan Kauman. Suasana tradisional mengingatkan saya pada deretan kampung di kawasan Peneleh, Surabaya. Rumah berjejer berhimpitan serta beberapa industri batik mendorong tingkat perekonomian masyarakat sekitar. Bisa dikatakan, Solo memang ditakdirkan untuk berkembang dari batik. Perjalanan kami susuri mulai dari hiruk pikuknya suasana Pasar Klewer, antiknya Masjid Kauman, serta beberapa bangunan tua yang menghiasi putaran Kraton Solo.

Berjalan menyusuri peradaban Solo layaknya melintasi peradaban tiga jaman, mulai dari jaman kesultanan, perjuangan

Generasi Muda Kraton

kemerdekaan, hingga moderen. Bagaimanapun perkembangan kota ini, sebaiknya janganlah mengaburkan identitas diri dan budaya kota, kareha hal tersebut yang menghubungkan kenangan masa lalu dan proyeksi masa saat ini. Kita patut bersyukur, bahwa hal tersebut masih dipegang oleh mayoritas masyarakat di Solo, walaupun tantangan besar dan modernisasi terus menggerogoti ruang nafas kota ini. Hmm..memang tidak salah bila pemerintah memberi julukan bagi kota ini “The Spirit of Java” (Semangatnya Jawa).

Advertisements

~ by aldiparis on November 28, 2010.

5 Responses to “:: Jelajah Sekitaran Solo ::”

  1. Generasi muda Kraton ya da..???
    ya.. ya.. ya..
    eheheheheehehehe

  2. Wow…blognya kereeen, foto-fotonya bagus Dek. Harus kemaren bisa barengan ke Takengon ya, biar bisa hunting foto bareng. Saya pernah ke Solo, tapi belum sempat eksplore kemana-mana, cuma dikota dan di hotel saja. InsyaA next time akan kembali ke SOlo deh..;)

  3. Mas.. mau tanya ini photo2nya harganya berapa? Aku mau pakai buat proposal nih.. email ke aku bisa Mas..

    Suwun

  4. Dear Mas Domi,

    Terima kasih atas apresiasinya. Tadi saya sudah kirim email ke Mas Domi. Lebih baik japri saja yak. Sekali lagi terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: