:: Peranap, a Short Story of Luhak Tigo Lorong (Peranap, Cerita Singkat Luhak Tigo Lorong) ::

 

Peranap Rubber's Plant

Peranap is a buffer city in Indragiri Hulu Regent, 50-km from Japura Airport in Japura or 200-km away from Pekanbaru, Riau capital city. It is located beneath main road between Kiliran Jao (West Sumatera) and Rengat (Riau), which is very strategic for business. In 1990’s, Stanvac, a multinational oil company, decided to build a road from lantung (crude oil). In summer season, the road really hard and smooth but in rainy season, this road will be filled with slippery-mud. Nowadays, a hot-mix design has already applied, therefore a little bit stable in every season.

 

Ruins of Peranap's Viceroy Palace

No one knows for sure about Peranap history. Once upon time ago, Peranap was known as Luhak Tigo Lorong (A Country with Three Village) which covering Baturijal Hilir, Pematang, and Baturijal Hulu. At those moment, Indragiri Kingdom, led by Raja Hasan or Sultan Salehuddin Keramatsyah (1735-1765 AD), faced a local chaos that caused by Datuk Dobalang, a sultan’s subordinate in Negeri Sibuai Tinggi (Taluk Kuantan nowadays). Within his ability and skillful martial arts, Datuk Dobalang succeeds to disrupt local stability in south side of Indragiri Kingdom. In order to handled this chaos, sultan hired three brothers (Tiala, Sabila Jati, and Jo Mahkota) from Batu Jangko (believed in Jambi now), which expert in Silat Batanghari (Jambi’s martial art), as his “secret agent”. Thanks to patience, perseverance, and their cunning, Datuk Dobalang finally killed in a fierce battle. Sultan really happy and gave them a parcel of land in Indragiri’s riverbank (near Pauh Ranap). They divided and controlled the area into three sub-regions (Baturijal Hilir, Pematang, and Baturijal Hulu. They also had sworn to protect each other and maintain peaceful situation until now. Over the time, this area growth and became Ibrahim’s residence, a viceroy of Indragiri Kingdom. He was proposed Viceroy Mosque (Masjid Raja Muda) in Pauh Ranap and build by a Chinese muallaf at 1883. From this Pauh Ranap words, finally peoples derive it as Peranap until now.

 

A Peranap's Old Man

Peranap peoples works as river fisherman, trader, rubber and palm plantation farmer. Most of them came from Melayu and Minangkabau ethnics which in old time, wandered from Pagaruyung Kingdom. No wonder, their accent influenced by Minangkabau language. There so much potential which can be extracted from this old town, especially in culture and heritage. With the construction of the bridge between the Pauh Ranap Old Village and Peranap Town, it is expected the economy from tourism and culture could be a recent mainstay of the region.

 

Peranap Viceroy's Old Mosque

Peranap merupakan salah satu kota penyangga di Kabupaten Indragiri Hulu, berada sekitar 50-km dari Bandara Japura, Japura atau 200-km dari Pekanbaru, ibukota Riau. Letaknya yang berada di lintasan utama Kiliran Jao-Rengat, memberikan efek bisnis yang cukup menjanjikan. Di tahun 1990-an, jalan raya di daerah ini masih berupa tanah bercampur lantung (minyak mentah) yang dibangun oleh Stanvac, salah satu perusahaan minyak asing di Indonesia. Pada musim kemarau, lantung ini mengeras layaknya aspal, namun pada musim hujan, jalanan berubah seperti medan off-road yang licin. Kini, aspal hot-mix telah menggantikan peran lantung dalam pembuatan jalan di wilayah ini.

Typical Pauh Ranap Village House

Tidak ada yang tahu pasti mengenai sejarah dari Peranap. Dahulu, wilayah Peranap disebut juga sebagai Luhak Tigo Lorong yang meliputi Baturijal Hilir, Pematang, dan Baturijal Hulu. Pada waktu itu, Raja Hasan dari Indragiri yang bergelar Sultan Salehuddin Keramatsyah (1735-1765 M) mengalami kesulitan dalam mengatasi ulah bawahannya, Datuk Dobalang, yang berkuasa di Negeri Sibuai Tinggi (Taluk Kuantan sekarang). Berkat kesaktian dan keahlian beladirinya, Datuk Dobalang berhasil memporak-porandakan stabilitas keamanan wilayah selatan Indragiri dan membuat masyarakat di wilayah ini menderita. Untuk itulah beliau merekrut tiga orang bersaudara (Tiala, Sabila Jati, dan Jo Mahkota) dari Batu Jangko (wilayah Jambi sekarang) yang mahir dalam ilmu Silat Batanghari, sebagai “agen rahasia” dari sang sultan. Berkat kesabaran, ketekunan, dan kecerdikannya, akhirnya tiga bersaudara ini berhasil membunuh Datuk Dubalang pada sebuah pertarungan yang sengit. Atas jasa-jasanya, sang sultan menganugerahkan tanah di tepian wilayah Sungai Indragiri (dekat Pauh Ranap) kepada mereka bertiga. Dibawah janji dan sumpah persetiaan yang berlaku sampai sekarang, mereka membagi wilayah tersebut menjadi sama rata (Baturijal Hulu, Pematang, dan Baturijal Hilir). Seiring dengan perjalanan waktu, daerah tersebut berkembang dan sempat menjadi kediaman bagi Raja Muda Kerajaan Indragiri yang bernama Ibrahim. Beliau juga turut membangun Masjid Raja Muda di Pauh Ranap. Konon masjid yang didirikan pada tahun 1883 ini diarsiteki oleh muallaf dari Tionghoa. Dari kata Pauh Ranap inilah, nama Peranap berasal.

Optimistic of Peranap's Old Man

Kehidupan masyarakat Peranap lebih banyak berkutat pada perkebunan karet, sawit, nelayan sungai, dan berdagang. Mayoritas dari mereka adalah etnis Melayu dan Minangkabau yang dulunya berasal dari wilayah Kerajaan Pagaruyung. Tak heran, aksen bicara mereka seperti aksen orang Minang dalam berbicara. Banyak potensi yang bisa digali dari wilayah tua ini, terutama dari budaya dan warisan sejarah. Dengan dibangunnya jembatan penghubung antara Desa Tua Pauh Ranap dan Kota Peranap, diharapkan ekonomi dari sektor pariwisata bisa menjadi andalan terbaru dari wilayah ini.

Advertisements

~ by aldiparis on January 27, 2011.

One Response to “:: Peranap, a Short Story of Luhak Tigo Lorong (Peranap, Cerita Singkat Luhak Tigo Lorong) ::”

  1. Pembuatan Jalan beda di indonesia, beda lagi di belanda, proses pembuatan jalan di belanda sangat unik. hihihi…

    beda di indonesia, beda lagi di belanda, proses pembuatan jalan di belanda sangat unik. hihihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: