:: Candi Tawangalun, Sebuah Persembahan Cinta Sang Raja (Tawangalun Temple, A Tribute of King’s Love) ::

Sekitar 30 menit saya perjalanan saya dari Waru menuju ke sebuah situs purbakala yang tidak pernah saya sadari, berada di dekat rumah. Terletak sekitar 400 meter dari Jalan Desa Buncitan-Gedangan atau sekitar 10 menit berkendara dari Bandara Internasional Juanda, bangunan arkeologi ini nampak tidak terawat dengan baik, walau “keangkuhannya” masih terasa Tidak ada papan penunjuk ataupun informasi tertulis terkait cara menuju candi ini, hanya bermodalkan jurus bertanya sajalah, akhirnya saya bisa tiba di tempat ini. Dibangun pada masa Kerajaan Majapahit masih bercokol di Nusantara, Candi Tawangalun berdiri dengan tujuan untuk “menyumbat” aliran lumpur yang keluar dari Gunung Uyah, sebuah bukit kecil dimana tempat candi ini berpijak. Jauh sebelum terjadinya Lumpur Lapindo, wilayah Buncitan sering mengeluarkan lumpur dan gelembung uap. Hingga saat ini, uap-uap dan gelembung tersebut masih keluar walau tidak sebesar jaman dahulu. Menurut legenda dan penuturan dari tokoh masyarakat setempat, candi ini dibangun oleh Raja Brawijaya II pada tahun 1292 (Majapahit baru berdiri 1293, dan gelar Brawijaya baru ada di masa Majapahit, mungkin maksudnya adalah Singhasari). Entah apakah benar atau tidak, candi ini adalah perwujudan rasa cinta dari seorang raja kepada selirnya. Kesan mistis sangat terasa saat kita memasuku areal candi. Tak jauh dari posisi candi, terdapat kompleks pemakaman rakyat. Hanya saja, komposisi dari candi ini sangat eksotis, karena terletak diatas bukit dan diapit pohon rindang. Semoga kedepannya, ada perhatian dari arkeolog dan pemerintah Sidoarjo agar mengelola candi ini dengan baik, bukan sebagai arena untuk meminta togel seperti saat ini. Penelusuran secara resmi dari kisah berdirinya candi ini juga diperlkan, agar anak cucu Buncitan mengetahui bahwa desanya di masa dahulu adalah tempat penting dan bersejarah.

About 30 minutes I was on my way from Waru towards an archaeological site that I never realized, it was near my house. Located about 400 meters from Buncitan-Gedangan village roads or about 10-min drive from Juanda International Airport, this archeology site is not well maintained, although the “arrogance” still feels. No signposts or written information which relevant to the temple, only with asking style, finally I can arrive at this temple. Built during the Kingdom of Majapahit was still entrenched in the archipelago, the temple Tawangalun stand in order to “block” the mudflow, which come out from Gunung Uyah, a small hill where the temple stand. Long before the mudflow happened in Lapindo Porong, the Buncitan region frequently cough-up mud and steam bubbles. Until now, the vapors and the bubble are still out, though in small scale. According to the legend and the narrative of local community leaders, the temple was built by King Brawijaya II in 1292 (newly established Majapahit 1293, and name of Brawijaya appeared during Majapahit period, perhaps the intention was Kingdom of Singhasari). Whether true or not, this temple was love manifestation of King Brawijaya to his mistress. Mystical impression is felt when we are entering temple. Not far from the temple, there is a local cemetery. However, the temple has exotic composition, since it is located on the hill and flanked by shady trees. Hopefully in the future, there is concern of archaeologists and Sidoarjo government to manage this temple, not as an arena for gamblers looking for inspiration. Official search of temple history is also needed, therefore Buncitan’s children and grandchildren understand that their village was an important village and historic places.

Advertisements

~ by aldiparis on March 27, 2012.

2 Responses to “:: Candi Tawangalun, Sebuah Persembahan Cinta Sang Raja (Tawangalun Temple, A Tribute of King’s Love) ::”

  1. dukung pelestarian peninggalan sejarah yg ada di Jawa Timur. Salam EastJava Traveler

  2. Kemungkinan lubang besar itu dulu adalah petirtaan [ kolam air yang suci].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: