:: Raos Pacinan, Alliance of Majapahit and Mongol Army (Raos Pacinan, Aliansi Majapahit – Tentara Mongol) ::

Surabaya’s border at 7:15 o’clock in the morning is still quite warm, but it did not relieve my intention to get up from the bed and began adventuring. This time, my destination is Carat, a small village in Gempol district which is about 10 km south of Sidoarjo City. There is a signboard on the sidewalk Gempol- Mojosari road which made me curious since a year ago. The board state “Site Raos Pacinan 1.5 km” which indicates the existence of historical relics in the village. Carat has old name as Rabut Carat where listed in the inscription of Mount Butak (1294). In those inscription mentioned that, after defeating the rebel army of Gelang-Gelang (Kediri) in Kedung Peluk and Kapulungan, Raden Wijaya, son in law of Singhasari’s King, Kertanegara, facing his last victory in Rabut Carat. He soon moved to the north along with his relatives in law, Ardharaja. But from the Hanyiru, there was a large Gelang-Gelang’s army that broke defense line of Singhasari’s men. Ardharaja was deserted and left Raden Wijaya fought alone. In the end, Raden Wijaya with the rest of his army, amounting to 600 men, escaped and hid for a while in Rabut Carat.

1.5 km traveling through sugar-cane plantations and the canals of the River Porong, enough to give me sense of adventure. Finally I arrived at the scene and found this site, leaving only two statues of Dwarapala (a giant keeper) which faced toward west. According to Pak Soemari, the caretaker, once time ago, this site has a cupola and the pavilion. The site is also frequently visited by Chinese ethnic to ask for “guidance and inspiration”. However, in 1965, political turmoil in Indonesia damaged the part of this site.

There is also history regarding the existence of these Dwarapala’s. Rabut Carat was formerly a military base with alliances Majapahit-Mongol Army before retaliating against rebellion of Gelang-Gelang in Kediri. Not surprisingly, this location is just 30 meters from the banks of the River Porong. So, most likely, this statue is one of the gates into the office of the allies force. It’s a thing that I could not imagine, that this place used to be very important, large, and historic. Delta Brantas-Porong does have its own history in the eyes of Indonesia. We have a duty to maintain this asset for our next generation.

___________________________________________________________________________________

Perbatasan Surabaya pada pukul 07.15 pagi masih cukup hangat, namun tidak menyurutkan niat saya untuk bangkit dari peraduan dan mulai bertualang. Tujuan kali ini adalah ke daerah Carat, Kec. Gempol yang letaknya sekitar 10 km di selatan Sidoarjo. Ada satu papan penunjuk di tepi jalan Mojosari-Gempol yang membuat saya penasaran sejak setahun lalu. Papan tersebut bertuliskan “Situs Raos Pacinan 1.5 km” yang menunjukkan adanya peninggalan sejarah di sekitar Desa Carat tersebut. Desa ini merupakan nama lama dari Rabut Carat yang tercantum dalam Prasasti Gunung Butak (1294). Disebutkan bahwa setelah mengalahkan tentara pemberontak Gelang-Gelang (Kediri) di Kedung Peluk dan Kapulungan, Raden Wijaya yang merupakan menantu Raja Singhasari, Kertanegara menghadapi kemenangan terakhirnya di Rabut Carat. Beliau segera bergerak ke arah utara bersama Ardharaja, namun dari arah Hanyiru, muncullah armada besar Kediri yang memporak porandakan barisan pertahanan Singhasari. Ardharaja pun membelot dan meninggalkan Raden Wijaya berjuang sendirian. Akhirnya beliau bersama sisa pasukannya yang berjumlah 600 orang melarikan diri dan bersembunyi sementara waktu di Rabut Carat.

Perjalanan 1.5 km melewati areal perkebunan tebu dan kanal-kanal dari Sungai Porong cukup memberikan nuansa petualangan tersendiri di areal ini. Akhirnya saya tiba di lokasi dan ternyata situs ini hanya menyisakan dua buah patung Dwarapala (raksasa penjaga) yang menghadap ke arah barat. Menurut penuturan Pak Soemari yang menjadi juru kunci, dahulu situs ini memiliki cungkup dan pendopo untuk melindunginya. Situs ini juga sering didatangi oleh pebisnis-pebisnis etnis Tionghoa untuk meminta petunjuk dan ilham. Akan tetapi di tahun 1965, gejolak politik di Tanah Air ikut merusak keberadaan situs ini.

Ada cerita sejarah terkait keberadaan dua patung Dwarapala ini. Rabut Carat ternyata dahulunya adalah pangkalan militer bersama aliansi Majapahit – Tentara Mongol sebelum melakukan serangan balasan terhadap pemberontak Gelang-Gelang di Kediri. Tak heran, lokasi ini hanya berjarak 30 meter dari tepi Sungai Porong. Jadi, kemungkinan besar, arca ini adalah salah satu gerbang masuk ke kantor persekutuan dua pasukan tersebut. Sungguh sebuah hal yang tak bisa saya bayangkan, bahwa tempat ini dahulunya sangat penting, besar, dan bersejarah. Delta Sungai Brantas-Porong memang memiliki kesejarahan tersendiri di mata Indonesia. Kita harus menjaganya demi generasi mendatang.

Advertisements

~ by aldiparis on March 28, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: