:: Jejak Pendiri Kesultanan Palembang Darussalam, Ki Gde Ing Suro (An Impression of Palembang Darussalam Sultanate Founder, Ki Gde Ing Suro) ::

Tepat sebelum Shalat Jum’at, Pak Ismail Ishak dari Dinas Pariwisata Kota Palembang, memberikan pesan bahwa saya akan diajak keliling Palembang, tentunya setelah selesai shalat dan makan siang. Secepat kilat saya berikan jawaban setuju untuk menerima ajakan beliau. Setelah bertemu, opsi yang saya minta (sedikit memaksa) adalah menuju ke Candi Angsoka dan Makam Ki Gde Ing Suro. Ternyata, beliau juga belum pernah ke lokasi tersebut, dan beliau berniat untuk inspeksi lapangan ke target-target tersebut. Tanpa banyak cakap lagi, kita langsung menuju ke Candi Angsoka di dekat RSK Charitas Palembang. Disini bukan candi yang kita temui, melainkan batu yoni setengah jadi yang ironisnya, sudah menempel pada rumah penduduk. Karena itu, kami hanya menghabiskan waktu sekitar 30 menit di lokasi ini.

Target berikutnya adalah Kompleks Pemakaman Ki Gde Ing Suro yang terletak di Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang dan berada dalam jangkauan wilayah hijau PT Pupuk Sriwijaya (PUSRI) Palembang. Lokasinya memang tidak jauh dari Pelabuhan Boom Baru dan area industri pupuk tersohor di negeri ini. Kompleks makam ini berada dalam jalur segitiga Kawah Tekurep, Sabokingking, dan Ki Gde Ing Suro sendiri. Untuk menuju kesana, cukup memusingkan karena tidak adanya papan penunjuk jalan. Akan tetapi jangan khawatir, kompleks makam ini terkenal di kalangan masyarakat sekitar. Sehingga dengan bermodalkan tanya dan sopan, kami akhirnya tiba di areal kompleks pemakaman tersebut.

Layaknya kompleks pemakaman kerajaan bercorak Islam, kompleks ini memiliki 8 bangunan dengan total ada 38 makam. Yang unik adalah, 8 bangunan penyokong makam berasal dari bekas pondasi candi bercorakkan agama Buddha yang diduga sisa peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Pondasi ini dilengkapi dengan tangga naik, relief Bunga Seruni, batu bata merah, dan beberapa tumpukan batu bata putih. Kondisi kaki candi ini mirip dengan kompleks percandian Bumiayu di tepi Sungai Lematang dan Masjid Indrapura di Aceh Besar yang pondasinya terbuat dari bekas candi.

Ki Gde Ing Suro sendiri merupakan putra dari Ki Gde Ing Lautan, salah satu dari 24 bangsawan Kerajaan Demak yang melarikan diri ke Palembang, dikarenakan terjadinya kekacauan di dalam istana. Kekacauan ini membuat rezim Demak harus tumbang ke wilayah Pajang, setelah berjaya selama 65 tahun. Diatas puing-puing Kerajaan Sriwijaya inilah, Ki Gde Ing Lautan mendirikan imperium Kesultanan Palembang yang bercorakkan Islam di tepi Sungai Musi. Wilayah ini dikembangkan lagi oleh putranya yang bernama Ki Gde Ing Suro dengan pusat pemerintahan berada di Istana Kuto Gawang. Sayangnya, istana yang diapit oleh sungai kecil ini luluh lantak diterjang oleh invasi militer VOC Belanda. Diperkirakan lokasi bekas istana tersebut berada di dalam lingkungan pabrik PT. Pusri.

Walaupun Ki Gde Ing Suro telah wafat, tentunya beliau tersenyum bangga, melihat Palembang sekarang telah berubah menjadi lebih maju dengan bumbu kesatuan etnis diatasnya, serupa dengan yang beliau terapkan di masa pemerintahannya dahulu. Namun, beliau pun juga tidak ingin Palembang tidak memiliki sebuah semangat untuk mempertahankan warisan leluhurnya. Sungguh ironi bagi kita, bila geliat pembangunan yang marak di sekitar area makam saat ini, justru mengorbankan tempat peristirahatan terakhir salah satu tokoh pengembang Kesultanan Palembang. Sudah sepatutnya kita harus memiliki kepedulian yang sangat besar untuk menjaga salah satu aset jati diri kota ini.


Just before Shalat Jum’at (Friday Pray), Mr. Ishak Ismail from Palembang City Tourism Office, sent me an invitation to join him walk-around Palembang. Of course, it will happen after prayer and lunch. I gave my answer immediately, that I accept his invitation. After we met, I asked for the option (a lil’ bit force him J) to visit Angsoka Temple and the Tomb of Ki Gde Ing Suro. Apparently, he also had never been visiting that location, and he intends to field inspections for these targets. Without much conversation, we went straight to the Angsoka Temple which is near of Charitas Hospital. It wasn’t the temple that we found, but half-finished stone of Yoni (female symbols in Hinduism) which ironically, is attached to the houses of local people. Therefore, we only spent 30 minutes in the location and then we go again.

The next target is Tomb of Ki Gde Ing Suro in 1 Ilir Village, Ilir Timur II District, Palembang City. This location is inside the green area of PT Pupuk Sriwijaya (PUSRI) Palembang. And it is not far from the Port of Boom Baru. This tomb is located in a triangular path of Tekurep Crater, Sabokingking, and Ki Gde Ing Suro itself. A little bit confusing to go there, since there is no location sign along the road that we crosed. But don’t worry, this tomb complex known among the local community. So, with polite conversation ask, we finally arrived at the tomb area.

Like the Islamic royal tomb, this complex has 8 buildings with a total of 38 graves. The unique one from this tomb is it foundation. 8 buildings foundation are made above the Buddhist foot-temples. It has suspected as remnants of the Srivijaya Empire. The foundation is equipped with a ladder-up, relief flower Chrysanthemum, red brick, and several piles of white bricks. The condition is similar to the foot of Bumiayu Temples in Lematang riverbank and Mosque of Indrapura in Aceh Besar, which the foundation of mosque is made from the temple.

Ki Gde Ing Suro is Son of Ki Gde Ing Lautan, one of the 24 Demak nobles who fled from Demak to Palembang, due to the occurrence of chaos in the palace. This mess makes Demak regime fall into the Pajang, after succeeding for 65 years. Above the ruins of Srivijaya Empire, Ki Gde Ing Lautan set up the Sultanate of Palembang on the banks of the Musi River. This region is further developed by his son who was named Ki Gde Ing Suro with the mighty palace was in the Kuto Gawang Palace, a big building which surrounded by two canals. Unfortunately, this palace devastated in 1659 due to military invasion from the Dutch VOC, led by Joan van der Laan. Nowadays, the former palace is located inside PT. Pusri factory, without any trace.

Although Ki Gde Ing Suro has passed away, he might be smiled proudly, looking at Palembang now been changed to be more forward with unity of various ethnic on it, similar spirit that applied in his first reign. However, he also doesn’t want Palembang miss a passion to preserve the legacy of their ancestors. Its irony for us, when rampant development around the tomb area at this time, will be sacrifice the final resting place of Palembang figures. It is must for us to have big concern, to maintain the identity assets from this city.

Advertisements

~ by aldiparis on July 18, 2012.

One Response to “:: Jejak Pendiri Kesultanan Palembang Darussalam, Ki Gde Ing Suro (An Impression of Palembang Darussalam Sultanate Founder, Ki Gde Ing Suro) ::”

  1. angle foto yang bagus. terimakasih telah mendokumentasikan salah satu peninggalan kerajaan Palembang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: