:: Bandara Hussein Sastranegara, Airport Komersial Mini ::

Entrance of Airport

Entrance of Airport

Cuaca cerah berawan menyambut saya di Bandara Husein Sastranegara Bandung di hari Jum’at (22 November 2013). Sudah hampir seminggu ini cuaca kota Bandung cukup baik untuk kegiatan penerbangan di bandara ini. Rasa penasaran saya akan bandara di kota nomor tiga (atau empat ?) terbesar di Indonesia setelah Medan ini, mengalahkan rasa kekhawatiran untuk menggunakan moda transportasi udara pada daerah yang dikepung oleh gunung dan bukit, serta berada di ketinggian 742 meter dari permukaan laut ini.

Bandara ini didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1921 di daerah Cicukang, Desa Cibeureum, menggantikan bandara Cipagalo, Sukamiskin. Karena daerah ini berada di dekat daerah Andir, maka disebut juga Bandara Andir. Dahulu, bandara ini dipakai sebagai fasilitas pendukung untuk angkatan udara Hindia Belanda dalam usaha menaklukan Bumi Parahyangan.

Bandung Aerial

Bandung Aerial

Usaha tersebut gagal, mengingat 24 tahun lalu kemudian, Indonesia meraih kemerdekaannya dan ditahbiskan secara de-facto pada Konferensi Meja Bundar 1949. Dengan demikian, seluruh aset milik pemerintah kolonial diserahkan ke Pemerintah Republik Indonesia. Bandara Andir sendiri diambil alih oleh pemerintah pada tahun 1950 melalui serah terima dari Mayor E.J. van Kappen kepada Mayor Udara Wiweko Soepono.

Nama Husein Sastranegara sendiri dilekatkan di bandara ini pada tahun 17 Agustus 1952 untuk menghormati salah seorang tokoh penerbangan Indonesia tersebut. Husein Sastranegara sendiri merupakan bangsawan Priangan yang meninggalkan kehidupan ningrat nya untuk mengabdi dalam peletakan dasar-dasar dunia penerbangan bagi negara kepulauan yang baru seumur jagung ini. Namun pengabdian beliau hanya sebentar, dikarenakan gugur saat menunaikan tugas untuk menguji kehandalan pesawat rampasan Jepang di Yogyakarta pada usia 27 tahun. Sejak saat itu, untuk mengenang perjuangan dan keuletan beliau, nama Bandara Andir diubah menjadi Bandara Husein Sastranegara.

GA 360 Before Take-off

GA 360 Before Take-off

Saat ini, Bandar Husein Sastranegara melayani penerbangan domestik (Pekanbaru, Medan, Surabaya, Pontianak, Yogyakarta, Denpasar, Semarang, Bandar Lampung, dan Batam) maupun internasional (Kuala Lumpur, Johor Bahru, dan Singapore). Dengan panjang landasan 2,244 meter membuat bandara ini cukup mini dibandingan dengan bandara Surabaya, Cengkareng, bahkan Jambi yang memiliki landasan pacu sepanjang 2,400 meter. Namun demikian, pesawat sekelas Boeing 737-800 dan Airbus A320 dapat mendarat pada landasan bandara ini.

Mengenai fasilitas, tergolong komplit dibandingkan Bandara Sultan Thaha di Jambi (sekarang sedang dilakukan renovasi pada bandara ini untuk menaikkan kelasnya ke bandara internasional) dengan adanya ATM, pujasera khas Bandung yang tertata rapi, took buku Periplus, ruang tunggu yang nyaman, musholla ruang tunggu, tempat parkir yang cukup memadai walau terbatas, dan tempat pelampiasan hasrat lapar saya, Solaria Resto.

Waiting

Waiting

Secara keseluruhan, bandara ini sangat kecil dan berada di lingkungan militer. Walau demikian, kesan nyaman sangat terlihat bagi calon penumpang yang akan berkelana keluar atau datang ke Bandung. Perlu diingat, tidak semua taxi bisa diterima di bandara ini kecuali taxi yang dibawah pembinaan Primkop Angkatan Udara. Kecuali, bagi calon penumpang yang datang ke bandara menggunakan taxi apapun, akan tetap diterima.

Advertisements

~ by aldiparis on November 26, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: