Banjarmasin and Lok Baintan

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Lok Baintan Floating Market activity

Dua tahun yang lalu, adalah tulisan terakhir saya di blog wordpress ini. Karena alasan kesibukan dan rasa malas, baru saat ini saya terpikir untuk menulis kembali tulisan ringan dari perjalanan saya selama ini. Mungkin bukan tulisan panjang dan spesial, hanya saja saya berharap memori perjalanan saya selama ini tidak hilang begitu saja akibat pertambahan usia.

 

Kali ini saya akan flashback ke tahun 2011, dimana saat itu saya berkunjung ke Banjarmasin, ibukota propinsi Kalimantan Selatan. Bersama Om Rony, rekan dan salah satu guru fotografi yang kebetulan memiliki urusan pekerjaan disana, kami berangkat dari Surabaya  menggunakan pesawat Citilink dan tiba di Bandara Syamsudin Noor, bandara tua yang terletak 26 km dari pusat kota. Hari pertama di Banjarmasin pun saya lalui untuk menemani Om Rony menyelesaikan pekerjaannya hingga selesai.

Banjarmasin sendiri pada awalnya merupakan sebuah kelompok kampung sungai yang terletak di daerah Alalak hingga Muara Kuin, sebelah utara pusat kota saat ini, dan bernama Banjar (Bahasa Melayu: kampung) Masih (kelak, akibat pengucapan lidah orang-orang Eropa, “Masih” berubah menjadi “Masin”). Karena letaknya yang strategis di muara Sungai Barito, perkampungan ini dipilih oleh seorang pangeran Hindu bernama Samudra sebagai basis pertahanan menghadapi perang saudara dengan Kerajaan Negara Daha dari Amuntai yang saat itu beragama Hindu. Sesungguhnya Pangeran Samudra sendiri merupakan bagian dari keluarga Kerajaan Negara Daha yang memutuskan untuk menyingkir ke daerah hilir Sungai Barito sebagai akibat perebutan tahta kerajaan. Dari daerah Banjar Masih inilah beliau bersama orang-orang kepercayaannya mengadakan perlawanan dan blokade militer terhadap Kerajaan Negara Daha. Peperangan sengit, berlarut, dan memakan korban yang banyak, membuat sang pangeran berpikir untuk segera mengakhiri konflik berdarah ini secara cepat. Aliansi dengan beberapa kerajaan kecil di pesisir Kalimantan segera dibangun, namun tawaran militer dari Kerajaan Demak di Jawa lah yang mengubah nasib Pangeran Samudra di masa depan. Seribu tentara Demak yang dibawah pimpinan Khatib Dayan, seorang mubaligh dan senopati dari Demak, dikirim untuk membantu gabungan pasukan Banjar Masih menghadapi ekspedisi militer Kerajaan Negara Daha. Aliansi ini berhasil mematahkan serangan musuh dan melakukan serangan balik hingga ke garis pertahanan di Amuntai. Kerajaan Negara Daha tak kuasa membendung serangan tersebut hingga akhirnya mengaku kalah dan Pangeran Samudra kemudian menggabungkan kerajaan ini di bawah panji Kerajaan Banjar Masih. Beliau pun selanjutnya memeluk Islam (sesuai dengan perjanjiannya dengan Sultan Trenggana dari Demak) dan mengambil gelar Sultan Suriansyah. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1526 dan pada tahun itu juga Masjid Sultan Suriansyah berdiri. Masjid ini sampai sekarang menjadi salah satu dari masjid tertua di Kalimantan Selatan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sultan Suriansyah Old Mosque

Masjid ini sendiri cukup unik karena memadukan arsitektur dan hiasan menyerupai Masjid Demak dengan struktur konstruksi rumah panggung ala Suku Banjar. Masjid yang terletak di daerah Kuin ini sampai sekarang masih dipakai untuk kegiatan ibadah dan terkadang pusat peringatan hari besar Islam. Kanal-kanal tua yang mengelilingi masjid pun terkadang sering dilewati sampan-sampan masyarakat Banjar untuk akses berniaga.

Sasaran utama kami sebenarnya adalah Pasar Terapung Lok Baintan, sebuah pasar terapung yang konon lebih tua dan alami dibandingkan dengan pasar terapung di negara tetangga. Dikarenakan aktivitas pasar ini dari jam 06.00-09.30 WITA, maka sebelum shubuh kami memutuskan untuk berangkat melalui Sungai Barito dengan menyewa perahu klotok seharga Rp. 400,000. Shalat shubuh kami kerjakan di atas perahu dengan sedikit guncangan dan cipratan air saat perahu melewati tikungan sungai. 30 menit perjalanan kami akhirnya tiba di Lok Baintan. Waktu itu, kawasan Lok Baintan masih sepi dan para pedagang masih belum banyak tiba. Sambil mengisi waktu, kami memutuskan untuk menjelajahi kampung tradisional Lok Baintan yang perlahan-lahan bergerak menuju era modernisasi. Listrik, telepon, dan kendaraan bermotor sudah jamak di daerah ini. Namun, riak aktivitas mandi pagi bersama dan mencuci di tepi sungai tidak ditinggalkan oleh masyarakat di tepi sungai ini.

Pukul 06.10 WITA sayup-sayup kami mendengar suara ibu-ibu dari arah sungai. Segera kami naik ke atas perahu dan mempersiapkan kamera. “Aldi..gunakan lensa tele dan spot metering pada kamera” kata Om Rony sambil naik ke atas atap perahu. Dia tampaknya cukup nekat dan nyaman naik ke atap perahu yang kami tumpangi. Akan tetapi yang saya takutkan adalah kami terjungkal bersama-sama ke dalam sungai bila posisi perahu tidak stabil. Untung saja semua bayangan negatif itu tidak terwujud nyata.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Soto Banjar Seller, they use floating bloat to sell their soto’s food

Suara shutter kamera kami saling bersahutan. Beberapa turis asing dan fotografer juga sudah mulai tiba menikmati suasana keramaian pasar terapung. Tak jarang kami mendengar teriakan dari para pedagang untuk minta di foto, dan tentunya sambil menawarkan barang jualan mereka. Segala sesuatu bisa dijual di pasar ini, terutama yang berurusan dengan kebutuhan dapur seperti sayuran, buah-buahan, bumbu-bumbu, peralatan masak, hingga sarapan pagi. Kami pun mencicipi segelas kopi dan gorengan di salah satu perahu yang menjual makanan. Yang paling menarik adalah sensasi bergoyang saat kami mencoba Soto Banjar, sebab andaikata tidak berhati-hati, kuah panas soto siap menghujam badan kita.

Tak terasa tiga jam kami berada di daerah Pasar Terapung Lok Baintan dan satu persatu para pedagang mulai meninggalkan arena pasar. Ada yang pulang dengan mengayuh perahunya sendirian, namun ada juga yang mengaitkan perahunya dan menumpang dengan perahu bermotor. Kami pun memutuskan untuk kembali ke kota Banjarmasin dan bersiap-siap untuk kembali ke Surabaya.

Sungai seperti sahabat dekat dan nafas kehidupan sehari-hari masyarakat Banjarmasin. Karena itu, aktivitas pasar terapung dan bangunan cagar budaya di tepian Sungai Barito dari dulu hingga saat ini tidak terlalu jauh berbeda situasi dan kondisinya.

Kalau saja kondisi ini bisa terus dipertahankan dan dikemas menjadi objek wisata yang semakin menarik kunjungan wisatawan, tidak saja berimplikasi positif bagi terhadap kehidupan masyarakat dan perekonomian daerah, namun juga merupakan sebuah kebanggaan atas  keberhasilan mempertahankan tradisi dan warisan yang sudah ada sejak beberapa abad lalu. Dan apa yang kami kunjungi selama dua hari ini, adalah sebagian kecil dari potensi besar tersebut.

________________________________________________________

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

A trader in Lok Baintan

It was two years ago since my last article in this wordpress blog. Due to some busy and feel lazy to write, finally I have a will to restart my writing-trip again. Perhaps, it is not a long special-article, just a simply words, hope that my trip memory will not disappear in advance of the age.

This time I’ll flashback into 2011, where I visited Banjarmasin, the capital city of South Borneo (Kalimantan). Along with Uncle Rony, a friend and also one of my photography teacher which have some business in this city, we flight from Surabaya by Citilink Airlines and arrived in Syamsuddin Noor Airport, an old airport which located 26-km from city center. However, I spent my first day in this city to accompany Uncle Ronny finish his matter.

In the beginning, Banjarmasin was originally a group of river-villages which spread from Alalak into Muara Kuin, north of downtown today, and it called Banjar (Malay: village) Masih (later on, due to Europeans pronunciation, “Masih” becomes “Masin”). Because of its strategic location at the mouth of the Barito River, this village was chosen by a Hindu prince named Pangeran Samudra, as a base-defense against Kingdom of Negara Daha from Amuntai. Prince Samudra actually is part of the royal family in Negara Daha who withdrew into downstream of Barito River, as a result of seizure the throne. From Banjar Masih, with his loyal follower, he held resistance and military blockade against Negara Daha. Battle fierce, protracted, and high numbers casualties, making the prince thought to end this bloody conflict immediately. Thus, an alliances with several small kingdoms on the coast of Borneo soon be built, but  military offering from Demak Sultanate in Java, was the one who changed the fate of the prince. A thousand of Demak troops led by Khatib Dayan, an imam and senopati (commander) of Demak, were sent to help the alliances forces face a military attack from Negara Daha. Finally, this alliance managed to break the enemy’s attack and launch counter attack to enemy defense line in Amuntai. Negara Daha was unable to stem the attack, and finally they defeat and Prince Samudra then combine this kingdom under the banner of Banjar Masih Kingdom. He was subsequently embraced Islam (in accordance with its agreement with the Sultan of Demak Trenggana) and took the title of Sultan Suriansyah. These events occurred in 1526 and in the same year Sultan Mosque Suriansyah stand. This mosque until now one of the oldest mosque in South Kalimantan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Traditional Carving in Sultan Suriansyah Mosque, a 450 years old mosque in Kuin

The mosque itself is quite unique because it combines architecture and decoration resemble Demak Mosque with construction stage-house style of Banjar Tribe. The mosque, which is located in the area Kuin is still used for religious activities and sometimes as center of Islamic celebration days. Old canals that surround the mosque is often through by canoes of Banjar people to access trade.

Our main target is actually Lok Baintan Floating Market, a floating market that supposedly older and natural, compared with floating markets from another neighboring countries. Due to market activity starts from 6:00 to 9:30 AM, so we decided to go through the Barito River by hired klotok boat for Rp. 400.000 before dawn. We did our Fajr Pray on a boat with little shocks and splashes of water when the boat passes through river-bend. After 30 minute drive, finally we were arrived at Lok Baintan. At that time, the area was still quiet and traders still not arrived. To kill the time, we decided to explore the villages. Looks like Lok Baintan are slowly moving towards modernization. Electricity, telephone, and motor vehicles is common in this area. However, the ripple activity morning such as bathing together and wash in the river bank is not abandoned yet by the community on this river.

At 6:10 AM we heard the faint sound of the mothers from the river. Soon we climbed into the boat and prepare the camera. “Aldi..use your tele lens and set spot metering on camera” said Uncle Rony as he climbed onto the roof of the boat. He seems pretty brave and comfort ride to the roof of the boat. However I was afraid if we fell together into the river when the boat in unstable position. Fortunately, all of my afraid was not real.

Our shutter-camera sound were shouted each other. Some foreign tourists and photographers have also started arriving to enjoy croeded-atmosphere of floating market. Quite often we hear the request from the traders to ask for a photo, and while offering their goods. Everything can be sold in this market, especially home kitchen needed such as vegetables, fruits, spices, cookware, until breakfast. We also sampled a cup of coffee and fried food in one of the food-stall boats. The most interesting was swaying sensation when we eat Soto Banjar, and if we were not careful, hot sauce soup ready to pierce our bodies.

We spent three hours Lok Baintan and finally one by one the traders began to leave the market arena. Some of them were paddling his boat alone, but some were linking and pull by motorboat. We decided to go back to Banjarmasin and get ready to go back to Surabaya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

A prayer inside Sultan Suriansyah Mosque

Rivers such as a close friend and became the breath of people’s daily lives Banjarmasin. Therefore, the floating market activity and heritage buildings around Barito River from the past until today, is not much change.

If this condition can be maintained and packed into a tourist attraction, it is not only has a positive impact on people’s lives and the local economy, but also a pride in the success of maintaining tradition and heritage that has existed since centuries ago. And what we go for two days, is a small part of the huge potential.

Advertisements

~ by aldiparis on January 28, 2016.

2 Responses to “Banjarmasin and Lok Baintan”

  1. Wah.. sudah melihat langsung pasar apung nya ya? saya belum nih.. baru lihat dari TV saja.. semoga suatu saat bisa kesana langsung juga.

    • Alhamdulillah Pak Andri…worth to visit, pak. Orang-orangnya ramah dan lucu-lucu. Mereka terbuka dengan kita juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: