:: Menahan Nafsu ::

Umur dunia semakin hari semakin beranjak tua, begitu juga dengan perkembangan kebutuhan seseorang yang makin hari makin bertambah. Adalah hal yang mahfum, kalau manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang diraihnya. Andaikan diberi satu gunung emas, maka dia akan berusaha untuk mencari gunung emas yang kedua, tak peduli dengan apa yang berada di sekitarnya, bahkan kalau perlu dengan menghalalkan segala cara agar keinginannya tercapai.

Antara nafsu ataukah kebutuhan? Manakah yang akan kita pilih? Pantaskah keinginan kita terpenuhi dengan mengorbankan orang lain? Walaupun dari dalam sanubari ini mengatakan tidak pantas, namun dalam prakteknya seringkali kita melupakan kata TIDAK tersebut. Karena, kalau tidak mendahulukan kepentingan pribadi dulu, kita yang akan didahulukan orang lain..hmmm…Good reason..Tapi jika kita menilik keteladanan Bung Hatta, sebuah fenomena menarik bisa kita tarik dari perjalanan hidup beliau.

Di era 1950-an, dunia sedang digandrungi merek sepatu bermutu tinggi dan pastinya sangat mahal. Merke itu adalah Bally, dan Bung Hatta, yang saat itu masih menjad Wakil Presiden Pertama RI, berminat pada sepatu tersebut. Ia pun menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu yang beliau idamkan tersebut.

Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu  terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai  taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Ironisnya, hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya  tak pernah mencukupi.

Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu  itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu  Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang  menjadi kenalan Bung Hatta.

“Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri,” kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana Peringatan Satu Abad Bung Hatta.

Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang  lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi  konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan  tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya kita dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang  melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi  berutang dan meminta sedekah dari orang asing. [ kiriman dari SAM ]

 

Advertisements

~ by aldiparis on August 13, 2008.

2 Responses to “:: Menahan Nafsu ::”

  1. Rupanya Ajo Ni urang Minang thoo….

    Minang Di ma Jo….?

  2. Oi, uda…ambo dari Bukik Tinggi, uda Dhianofie darima asalnyo? Awak bukan Ajo, hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: